06 July 2021, 10:41 WIB

Kelompok Bersenjata Culik 140 Siswa di Nigeria


Nur Aivanni | Internasional

KELOMPOK bersenjata menculik 140 siswa dari sebuah sekolah asrama di Nigeria pada Senin (5/7). Itu menjadi kasus terbaru dari rangkaian penculikan massal yang menargetkan anak-anak sekolah.

Geng bersenjata diketahui sudah lama mengganggu wilayah di barat laut dan tengah Nigeria dengan rangkaian kejahatannya, seperti menjarah, mencuri ternak, menculik untuk tebusan. Sejak awal tahun, mereka semakin menargetkan sekolah dan perguruan tinggi.

Dalam aksi terbarunya itu, kelompok itu menyerbu Sekolah Menengah Bethel Baptist (Bethel Baptist High School) di Negara Bagian Kaduna, pada Senin (5/7) dini hari, dengan melepaskan tembakan dan melumpuhkan penjaga keamanan. Mereka kemudian menculik sebagian besar dari 165 murid yang tinggal di asrama.

"Para penculik membawa 140 siswa, hanya 25 siswa yang melarikan diri. Kami masih tidak tahu kemana para siswa itu dibawa," kata guru sekolah tersebut, Emmanuel Paul, kepada AFP.

Bethel Baptist High School adalah perguruan tinggi pendidikan bersama yang didirikan oleh gereja Baptis di Desa Maramara, distrik Chikun, di luar ibu kota negara bagian Kaduna.

Para orang tua siswa pun frustrasi menunggu berita tentang anak-anak mereka. "Pemerintah ini telah mengecewakan rakyat Kaduna," kata Mustapha Kumbe, ayah dari salah satu siswa yang diculik kepada wartawan.

"Kami akan memprotes dan akan terus memprotes sampai anak-anak kami ditebus," lanjutnya.

Juru Bicara Kepolisian Negara Bagian Kaduna, Muhammed Jalige, membenarkan serangan itu tetapi tidak dapat memberikan rincian tentang jumlah murid yang diculik.

"Tim polisi taktis mengejar para penculik," kata Jalige. "Kami masih dalam misi penyelamatan," tambahnya.

Sejuah ini, polisi mengaku telah menyelamatkan 26 orang, termasuk seorang guru perempuan.

Pasca-kasus ini, pemerintah negara bagian Kaduna memerintahkan penutupan segera 13 sekolah yang dianggap rentan terhadap serangan, pada Senin (5/7).

Polisi menyebut penculikan di sekolah ini terjadi hanya beberapa jam setelah orang-orang bersenjata menculik delapan pegawai medis dari sebuah pusat kesehatan Kaduna.

Presiden Muhammadu Buhari pada Senin (5/7) mengarahkan militer, polisi dan badan intelijen untuk memastikan pembebasan yang aman dan segera dari semua korban penculikan.

Sebelum kasus tersebut, penculikan sudah dialami sekitar 1.000 siswa di Nigeria sejak Desember. Sebagian besar telah dibebaskan setelah negosiasi dengan pejabat lokal, dengan beberapa lainnya masih ditahan.

Serangan terhadap Bethel Baptist High School itu sendiri setidaknya merupakan penculikan massal keempat di negara bagian Kaduna sejak Desember.

Kelompok bersenjata itu kerap menargetkan sekolah dan perguruan tinggi di kawasan pedesaan di mana siswa tinggal di asrama yang tingkat penjagaannya longgar. Hal tersebut dinilai memungkinkan para penculik untuk memindahkan korban mereka ke tempat persembunyian di hutan dan menegosiasikan pembayaran uang tebusan.

Penculikan massal semacam itu pertama kali menjadi berita utama internasional pada 2014 ketika kelompok ekstrimis Boko Haram menculik hampir 300 siswi dari sebuah sekolah pedesaan di Chibok, Negara Bagian Borno. Kasus itu kemudian memicu kampanye daring via tagar #BringBackOurGirls.

Analis dari lembaga pemikir International Crisis Group (ICG), Nnamdi Obasi, menilai rangkaian penculikan tersebut sebagai upaya kelompok bersenjata untuk mengubah kebijakan pemerintah yang tidak akan membayar tebusan.

Diketahui, Gubernur Kaduna Nasir Ahmad El-Rufai sempat bersikeras bahwa dia akan menolak untuk membayar uang tebusan terkait aksi-aksi penculikan itu.

"Dalam hal jumlah serangan terhadap sekolah, Kaduna jelas lebih menderita daripada negara bagian lain ini," kata Obasi.

"Penargetan terus-menerus terhadap sekolah-sekolah di negara bagian menunjukkan kelompok-kelompok bersenjata mungkin mencoba untuk mematahkan tekad pemerintah negara bagian untuk tidak membayar tebusan kepada kelompok-kelompok kriminal," tuturnya. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT