04 July 2021, 11:24 WIB

Tentara Israel Tembak Mati Warga Palestina di Tepi Barat


Nur Aivanni | Internasional

SEORANG pria Palestina tewas terkena tembakan Israel dalam kerusuhan antara warga setempat dengan para pemukim Yahudi ilegal di Tepi Barat, pada Sabtu (3/7).

Pihak militer Israel sendiri menyebut insiden itu sebagai "konfrontasi kekerasan" antara warga Palestina dan pemukim Yahudi.

Namun, tentara Israel tidak mengonfirmasi kematian warga Palestina itu. Mereka hanya mengatakan pasukan menembaki seorang tersangka yang melemparkan "benda mencurigakan yang meledak di antara para tentara", di tengah kerusuhan tersebut.

Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan korban tewas tersebut bernama Mohammad Fareed Hasan, berusia 20-an. Ia ditembak tentara Israel di desanya, Qusra, dekat kota Nablus. Selain itu, dua warga Palestina lainnya terluka.

"Hasan sedang berdiri di atap rumahnya ketika dia ditembak mati," kata sebuah laporan dari kantor berita resmi Wafa.

Menurut laporan yang sama, warga Palestina di Qusra saat itu menangkis serangan oleh pemukim Israel garis keras di desa tersebut.

Di pihak lain, militer Israel mengatakan bahwa konfrontasi kekerasan antara puluhan warga Palestina dan pemukim Israel berkembang di dekat desa Qusra, selatan Nablus, di mana kedua belah pihak saling melemparkan batu.

"Pasukan yang berada di lokasi melakukan operasi untuk menjauhkan kedua belah pihak dari daerah tersebut dengan menggunakan sarana pembubaran kerusuhan," kata pernyataan tersebut.

"Selama kegiatan itu, seorang tersangka diidentifikasi melemparkan benda mencurigakan yang meledak ke arah tentara, yang merespons dengan menembaki ancaman itu," tambah pernyataan itu.

Untuk diketahui, permukiman Yahudi di Tepi Barat, wilayah Palestina yang diduduki Israel sejak 1967, telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Ada sekitar 475.000 pemukim Yahudi di Tepi Barat, yang tinggal bersama sekitar 2,8 juta orang Palestina.

Permukiman warga Yahudi tersebut telah dinyarakan sebagai permukiman ilegal oleh masyarakat internasional dan PBB karena merampas tanah sah milik warga Palestina.

Bentrokan antara warga Palestina dan pemukim Israel dan tentara biasa terjadi.

Daerah Nablus menjadi saksi ketegangan yang meningkat dalam beberapa hari terakhir ketika orang-orang Palestina mengadakan protes keras terhadap pembangunan pos terdepan Yahudi ilegal di dekat desa Beita, yang dikenal sebagai Eviatar.

Para pemukim dievakuasi dari pos terdepan itu pada Jumat (2/7), sesuai dengan kesepakatan yang mereka capai dengan pemerintah koalisi baru Israel. Meski demikian, sejauh ini belum ditemukan kaitan langsung antara kasus Eviatar dengan kerusuhan pada Sabtu (3/7) tersebut. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT