29 June 2021, 17:42 WIB

Asisten Rumah Tangga Indonesia di Hong Kong Jadi Youtuber Ternama


Mediaindonesia.com | Internasional

SEKITAR 20 tahun lalu, Nikmatul Rosidah, 42, datang ke Hong Kong, Tiongkok, sebagai asisten rumah tangga. Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan dikenal banyak orang melalui media sosial. Beberapa orang Indonesia di toko kelontong Indonesia, pasar Tai Wai Hong Kong, langsung menyapanya dan berbincang bersama.

Kisah fenomenal Rosidah bermula pada 2014. Ketika itu video berdurasi dua menit putri Rosidah mencoba meniup lilin ulang tahun menjadi viral di Youtube. Videonya kerap membagikan kehidupan keluarganya, makanan buatan sendiri, dan beragam budaya yang disajikan dengan latar belakang Hong Kong. Rosidah akhirnya menjadi salah satu dari sedikit influencer teratas di platform berbagi video online YouTube. Ia pun telah berhasil menemukan rasa memiliki dan rumah di Hong Kong.

"Ini untuk bersenang-senang dan saya menikmatinya. Jika tidak ada yang menontonnya, saya bisa menontonnya sendiri di masa depan," ucap Rosidah yang kini berpenghasilan sekitar HK$35.000 per bulan (sekitar US$4.400 atau Rp63,5 juta) dan memiliki 1,47 juta pelanggan di salurannya kepada Xinhua awal bulan lalu.

Selama tujuh tahun terakhir, dia telah mengunggah total lebih dari 1.500 video yang semuanya diedit di ponselnya. Dia merekam video untuk mendokumentasikan momen kenangan keluarganya dan mengunggahnya ke internet untuk menghemat ruang penyimpanan di ponselnya. Dia tidak tahu bahwa dia akan menjadi terkenal bahkan hingga Malaysia, Indonesia, dan Singapura.

Rosidah menikah dengan Paul Dobson, 55, yang berasal dari Kanada dan kini memiliki tiga anak di Hong Kong. "Pada dasarnya dia datang ke Hong Kong sebagai asisten rumah tangga dan keluar dari Hong Kong sebagai YouTuber," kata sang suami. Pertemuan pertama keduanya unik karena Rosidah menabrak Dobson saat menaiki eskalator di stasiun Kowloon Tong saat Tahun Baru Imlek 2004.

Dia menjadi salah satu dari sedikit asisten rumah tangga yang memilih untuk tetap tinggal di Hong Kong. Mengingat tahun-tahunnya bekerja sebagai asisten rumah tangga, Rosidah mengatakan bahwa dia telah menyesuaikan diri dengan Hong Kong dengan meniru orang-orang mengucapkan, "Zou-san," atau selamat pagi dalam bahasa Kanton, di pasar basah. "Saya merasa disambut di Hong Kong," katanya.

Sekarang semua teman Rosidah yang ditemuinya di pusat pelatihan asisten rumah tangga kembali ke Tanah Air. Lewat kamera, ia tetap berhubungan dengan teman-temannya selama kesibukannya sebagai ibu rumah tangga.

"Dia di rumah bersama anak-anak. Jadi terkadang dia menyiapkan kamera," kata Dobson. "Sepertinya dia sedang berbicara dengan teman-temannya yang tidak ada di sini."

Terlepas dari perbedaan bahasa dan budaya, resep Rosidah yang diunggah di saluran YouTube-nya telah diteruskan ke banyak keluarga Hong Kong melalui asisten rumah tangga Indonesia. Hal tersebut menghubungkan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. "Ketika dia mulai membuat roti, asisten lain mulai memanggang roti karena mereka bisa mengerti bahasanya," kata Dobson .

Sebagai pusat keuangan internasional Tiongkok, Hong Kong telah menerima asisten rumah tangga asing sejak awal 1970-an. Ini akibat kekurangan tenaga kerja yang berkepanjangan setelah bertahun-tahun pertumbuhan ekonomi yang cepat dan perubahan kebutuhan layanan rumah tangga lokal dalam masyarakat yang menua, menurut Research Kantor Sekretariat Dewan Legislatif Daerah Administratif Khusus Hong Kong (HKSAR).

Mayoritas dari mereka ialah perempuan dari Filipina dan Indonesia, dan tergolong kelompok di Hong Kong yang berkembang. Rasio pembantu rumah tangga asing terhadap keseluruhan tenaga kerja, menurut statistik yang dikumpulkan oleh Departemen Sensus dan Statistik pemerintah HKSAR, telah tumbuh hampir dua kali lipat dari 5,3% menjadi 9,3% dari tahun 1996 hingga 2016.

Hong Kong, sebagai latar belakang saluran Rosidah, telah menjadi perekat bagi orang-orang yang mencari mimpi atau kenangan. Seperti kebanyakan orang, kesan pertama Rosidah tentang Hong Kong dibentuk oleh film-film Jackie Chan atau Andy Lau.

Namun kanal Youtube Rosidah menjadi versi lain dari Hong Kong bagi mereka yang belum pernah ke sini. Bagi mereka yang sudah pergi, ini menjadi mesin waktu yang bisa membawa mereka kembali ke masa lalu. Ini tampak dari komentar orang-orang dalam kanal videonya. Ada yang bilang, "Saya bisa melihat Hong Kong tanpa pergi ke Hong Kong." Yang lain mengatakan, "Saya sangat merindukan suasana Hong Kong, mulai dari memasak hingga semuanya."

"Hong Kong benar-benar magnet untuk salurannya. Ini memberi mereka sesuatu untuk dikerjakan," tambah suami Rosidah. Hong Kong, lanjutnya, sebagai tempat yang sangat terkenal di Tiongkok, memberi orang lebih banyak kemungkinan dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Berbicara tentang masa depan, Rosidah berharap memiliki dapur yang lebih besar berwarna putih dan tempat memasak terpisah untuk makanan pedas. "Tidak harus terlalu besar. Ukuran seperti Hong Kong juga oke," dia tersenyum.

Keduanya telah menghabiskan hampir setengah dari hidup mereka di Hong Kong. Pasangan itu mengatakan mereka akan rindu rumah selama perjalanan jauh. Tetapi rindu itu hilang begitu mereka menginjakkan kaki di bandara Hong Kong.

Selama wawancara dengan Xinhua, bau kue tar telur menyelinap masuk dari dapur keluarga Dobsons, ruang mini yang hanya berjarak tiga langkah dari pintu ke sisi terjauh. Keluarga beranggotakan lima orang itu duduk bersama, makan, dan mengobrol dengan kamera terpasang di sampingnya. Rumah mereka dikelilingi pepohonan di distrik Sha Tin Hong Kong.

 

Setelah 20 tahun, Rosidah masih bisa mengingat saat pertama kali datang ke Hong Kong sendirian. Ketika itu dia tidak bisa berbicara sepatah kata pun dalam bahasa Kanton. Sekarang sebagai ibu dari tiga anak dan istri tercinta suaminya, dia menjadi bagian dari Hong Kong, kota internasional dengan roti nanas, telur ikan, dan Siu Mai, dan tempat yang dia sebut rumah. (OL-14)

BERITA TERKAIT