22 June 2021, 23:48 WIB

Vatikan Protes terhadap Rancangan UU Homofobia Italia


Mediaindonesia.com | Internasional

VATIKAN mengonfirmasi, Selasa (22/6), bahwa pihaknya telah mengajukan protes diplomatik terhadap rancangan undang-undang Italia yang melawan homofobia. Ini digambarkan sebagai tindakan campur tangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam urusan Italia.

Rancangan yang disebut undang-undang Zan saat ini sedang diperdebatkan di parlemen Italia. Aturan itu berusaha menghukum tindakan diskriminasi dan hasutan untuk melakukan kekerasan terhadap kaum gay, lesbian, transgender, dan penyandang disabilitas.

Menurut surat kabar Corriere della Sera, Vatikan berargumen dalam suatu surat atau note verbale, bahwa RUU tersebut melanggar Concordat, perjanjian bilateral antara Roma dan Tahta Suci dengan membatasi kebebasan beragama Katolik dan berekspresi.

Juru bicara Vatikan Matteo Bruni mengonfirmasi kepada AFP bahwa surat itu dikirim secara tidak resmi kepada duta besar Italia untuk Takhta Suci pada 17 Juni, tetapi Vatikan tidak mempublikasikan dokumen itu secara penuh.

Corriere mengatakan itu merupakan tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah hubungan antara kedua negara. Ia menambahkan bahwa catatan itu disampaikan oleh Uskup Agung Paul Richard Gallagher, menteri luar negeri de facto Paus Fransiskus.

Sejak pemilihannya pada 2013, Francis telah mengadopsi nada yang lebih lembut tentang homoseksualitas, terutama bertanya, "Siapa saya untuk menilai?" dan menyetujui pasangan sesama jenis diberikan pengakuan hukum.

Vatikan terus mempertahankan pernikahan sebagai antara seorang pria dan seorang wanita dan menentang adopsi gay. Vatikan melihat ideologi gender sebagai ancaman terhadap nilai-nilai keluarga tradisional.

Secara khusus, surat Vatikan keberatan dengan sekolah-sekolah Katolik yang tidak dibebaskan dalam mengusulkan hari nasional melawan homofobia, lesbofobia, dan transfobia, yang akan diadakan pada 17 Mei.

 

Ia juga menyatakan keprihatinan bahwa karena undang-undang Zan, umat Katolik di masa depan dapat menghadapi tindakan hukum karena mengekspresikan pendapat mereka tentang masalah LGBTI (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Interseks), kata Corriere. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT