21 June 2021, 22:49 WIB

Raisi Tolak Bertemu Biden tapi Ingin Hubungan dengan Saudi


Mediaindonesia.com | Internasional

PRESIDEN terpilih Iran Ebrahim Raisi mengatakan pada Senin (21/6) bahwa dia tidak akan mengizinkan negosiasi nuklir demi sejumlah negosiasi, dalam konferensi pers pertamanya sejak memenangkan pemilihan pekan lalu.

Raisi juga mengesampingkan pertemuan dengan Presiden AS Joe Biden tetapi mengatakan tidak ada hambatan untuk melanjutkan hubungan diplomatik dengan Arab Saudi, saingan regional Syiah Iran, yang telah terputus selama lima tahun.

Raisi, 60, memenangkan pemilihan Jumat dengan lebih dari separuh pemilih menjauh setelah banyak politisi saingan beratnya dilarang mencalonkan diri dan ketika krisis ekonomi yang didorong oleh sanksi AS telah menghantam negara itu.

Raisi, seorang ulama ultrakonservatif yang mengepalai peradilan Iran, akan menggantikan Presiden moderat Hassan Rouhani pada Agustus. Pencapaian penting Rouhani ialah kesepakatan nuklir 2015 antara Iran dan kekuatan dunia.

"Setiap negosiasi yang menjamin kepentingan nasional pasti akan didukung, tapi kami tidak akan membiarkan negosiasi demi bermacam negosiasi," kata Raisi tentang pembicaraan nuklir. "Setiap pertemuan harus membuahkan hasil untuk bangsa Iran," tambahnya.

Amerika dan Saudi

Ulama garis keras dari Muslim Syiah itu tersenyum dan mengangkat tangannya saat dia tiba untuk konferensi pers, Senin. Raisi mengatakan dia tidak berniat bertemu Biden.

"Tidak," tanggapan datarnya terhadap pertanyaan dari sejumlah media Amerika tentang kemungkinan pertemuan jika pembicaraan mengarah pada pencabutan sanksi AS terhadap Iran dan mencoba memperbaiki masalah antara kedua musuh bebuyutan itu. .

Di sisi lain, Raisi mengatakan pemerintahannya akan terbuka untuk memulihkan hubungan dengan musuh regional Iran, Arab Saudi. "Tidak ada hambatan dari pihak Iran untuk membuka kembali kedutaan. Tidak ada hambatan untuk menjalin hubungan dengan Arab Saudi," katanya.

Hubungan antara Iran dan Arab Saudi terputus pada 2016 setelah pengunjuk rasa Iran menyerang misi diplomatik Saudi menyusul eksekusi kerajaan terhadap ulama Syiah yang dihormati. Kedua belah pihak dilaporkan telah terlibat dalam pembicaraan yang diselenggarakan oleh Baghdad sejak April untuk meningkatkan hubungan.

Raisi, yang dikenai sanksi AS atas eksekusi tahanan politik pada tahun 1988, di masa lalu membantah dia berperan dalam pembunuhan tersebut.

Hak asasi manusia

Pada konferensi pers, Senin, Raisi mengatakan dia selalu membela hak asasi manusia. "Semua yang telah saya lakukan selama bertahun-tahun pelayanan, saya selalu untuk membela hak asasi manusia," kata presiden terpilih Iran, sambil menuduh barat yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia.

Raisi, yang sorban hitamnya menandakan keturunan langsung dari Nabi Muhammad, dipandang dekat dengan pemimpin tertinggi berusia 81 tahun, Ayatollah Ali Khamenei, yang memegang kekuasaan politik tertinggi di Iran. Raisi mengatakan ada partisipasi pemilih besar-besaran dalam pemilihan Jumat.

 

"Kehadiran orang-orang yang berarti ini, kehadiran besar-besaran mereka, terlepas dari situasi virus korona, terlepas dari banyak permusuhan dan perang psikologis dari musuh bangsa Iran," katanya. Jumlah pemilih mencapai 48,8%, rekor terendah untuk pemilihan presiden sejak revolusi Iran 1979 menggulingkan monarki yang didukung AS. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT