21 June 2021, 22:16 WIB

Hamas Kecam Israel tidak Ingin Akhiri Krisis Kemanusiaan di Gaza


Mediaindonesia.com | Internasional

KELOMPOK Islam Palestina Hamas mengatakan pembicaraan pada Senin (21/6) dengan para diplomat PBB yang mendukung gencatan senjata yang rapuh selama sebulan telah berjalan buruk. Hamas menuduh Israel tidak memiliki keinginan untuk mengakhiri krisis kemanusiaan di Gaza.

Wilayah Mediterania yang padat, rumah bagi sekitar dua juta warga Palestina di bawah blokade Israel sejak 2007, itu dihancurkan oleh konflik selama 11 hari. Utusan perdamaian Timur Tengah PBB Tor Wennesland tiba di Gaza pada Senin untuk melakukan pembicaraan dengan para pemimpin Hamas, satu bulan sejak gencatan senjata antara Hamas dan Israel mulai berlaku.

Namun seorang sumber di Hamas, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, mengatakan utusan PBB itu juga telah menyampaikan pesan negatif dari Israel kepada Hamas, tanpa memberikan rincian lebih lanjut. "Pertemuan itu buruk, sama sekali tidak positif," kata kepala sayap politik Hamas, Yahya Sinwar, kepada wartawan.

"Mereka mendengarkan kami dengan penuh perhatian, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa ada niat untuk menyelesaikan krisis kemanusiaan di Jalur Gaza," tambah Sinwar. PBB menolak berkomentar tentang hal itu.

 

Sinwar mengatakan para pemimpin di Gaza akan bertemu dalam jam-jam mendatang untuk memutuskan langkah mereka selanjutnya. Israel mengatakan telah mengizinkan ekspor terbatas produk pertanian dari Gaza mulai Senin serta truk yang membawa pakaian dan kain.

Namun Sinwar mengatakan hal itu tidak mengubah situasi di Gaza karena Israel terus memblokade bantuan internasional serta pengiriman bahan bakar penting yang diperlukan untuk pembangkit listrik dan membatasi pergerakan, termasuk para nelayan di Mediterania. "Jelas bahwa pendudukan (Israel) terus mempraktikkan kebijakannya terhadap kami dan rakyat kami di Jalur Gaza," kata Sinwar.

"Kami mengatakan kepada perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa kami tidak akan menerima masalah ini." Gencatan senjata mulai berlaku 21 Mei, mengakhiri pertempuran paling berdarah antara Israel dan Hamas sejak 2014.

Konflik tersebut menewaskan 260 warga Palestina termasuk beberapa pejuang, menurut pihak berwenang Gaza. Di Israel, 13 orang tewas, termasuk seorang tentara, oleh roket yang ditembakkan dari Gaza, kata polisi dan tentara.

 

Pekan lalu, pelanggaran gencatan senjata termasuk gerilyawan Palestina yang menyalakan balon pembakar untuk memicu kebakaran di lahan pertanian. Israel menanggapi dengan dua putaran serangan udara. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT