15 June 2021, 11:54 WIB

Ilmuwan Tiongkok Bantah Teori Virus Covid-19 Bocor dari Lab


Nur Aivanni |

PARA ilmuwan dari Tiongkok membantah bahwa sumber penyebaran virus korona tipe baru atau Covid-19 berasal dari Wuhan Institute of Virology di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok.   

"Bagaimana saya bisa memberikan bukti untuk sesuatu yang tidak ada buktinya?" kata Shi Zhengli, salah satu ilmuwan yang bekerja di laboratorium virus di Kota Wuhan kepada New York Times dalam pernyataan yang jarang dilakukan kepada media.

"Saya tidak tahu bagaimana dunia menjadi seperti ini, terus-menerus menuangkan kotoran pada ilmuwan yang tidak bersalah," ucap Shi.

Bulan lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memerintahkan badan-badan intelijen untuk menyelidiki asal mula pandemi, termasuk teori kebocoran laboratorium.

Pada pertemuan G7, Biden kembali menegaskan agar Tiongkok memberi akses kepada tim investigasi WHO untuk bisa masuk ke Wuhan Institute of Virology.

Hipotesis kebocoran itu juga dilontarkan sebelumnya selama wabah global, termasuk oleh pendahulu Biden, Donald Trump, tetapi secara luas disingkirkan dan dianggap sebagai teori konspirasi.

Namun, baru-baru ini teori tersebut kembali mencuat, yang didorong oleh laporan yang menyebut bahwa tiga peneliti dari Wuhan Institute of Virology jatuh sakit pada 2019 setelah mengunjungi gua kelelawar di Provinsi Yunnan, Tiongkok.

Shi adalah seorang ahli yang menyatakan bahwa sumber virus korona berasal dari kelelawar.

Beberapa ilmuwan mengatakan dirinya bisa saja memimpin apa yang disebut eksperimen 'gain-of-function' di mana para ilmuwan meningkatkan kekuatan virus untuk mempelajari lebih baik dampaknya pada inang.

Menurut New York Times, pada tahun 2017 Shi dan rekan-rekannya di laboratorium Wuhan menerbitkan laporan percobaan di mana mereka menciptakan virus korona kelelawar hibrida baru dengan mencampur dan mencocokkan bagian dari beberapa yang sudah ada - termasuk setidaknya satu yang hampir menular ke manusia - untuk mempelajari kemampuan virus itu untuk menginfeksi dan bereplikasi dalam sel manusia.

Namun dalam email ke surat kabar itu, Shi mengatakan eksperimennya berbeda dari eksperimen 'gain-of-function' karena mereka tidak berusaha membuat virus lebih berbahaya. Sebaliknya, mereka mencoba memahami bagaimana virus mungkin melompati spesies.

"Laboratorium saya tidak pernah melakukan atau bekerja sama dalam melakukan eksperimen GOF (gain-of-function) yang meningkatkan virulensi virus," tandasnya. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT