13 June 2021, 09:01 WIB

Pengunjuk Rasa Anti-Netanyahu Klaim Menang Jelang Pemungutan Suara


Nur Aivanni | Internasional

SEKITAR 2.000 orang, pada Sabtu (12/6) malam, berdemonstrasi di luar kediaman Benjamin Netanyahu di Jerusalem jelang pemungutan suara di parlemen yang dapat mengakhiri pemerintahan perdana menteri terlama Israel.

Parlemen akan memilih apakah akan mengukuhkan pemerintahan koalisi perubahan dan mengakhiri 12 tahun berturut-turut Netanyahu berkuasa.

Blok anti-Netanyahu itu mencakup partai-partai dari kanan, kiri dan tengah serta partai konservatif Islam Arab. Mereka disatukan oleh permusuhan terhadap pemerintahan perdana menteri yang dikenal dengan julukannya Bibi.

"Bagi kami, ini adalah malam yang besar dan besok akan menjadi hari yang lebih besar lagi. Saya hampir menangis. Kami berjuang dengan damai untuk ini dan hari itu telah tiba," kata pengunjuk rasa Ofir Robinski.

"Netanyahu hanya mencoba memecah belah kami dan membuat setiap bagian masyarakat saling bertentangan. Tapi besok kami akan bersatu: kanan, kiri, Yahudi dan Arab," tambahnya.

Para pengunjuk rasa meniup vuvuzela atau menabuh genderang, sementara beberapa lainnya memakai T-shirt yang bertuliskan dalam bahasa Ibrani: "Bibi Lekh" (keluar).

"Kita akan menyelesaikan era gelap bagi Israel," kata Ram Shamir.

Baca juga: Netanyahu Tuding Koalisi Baru Hasil Kecurangan Pemilu

Pemrotes lain, Gali Israel Tal, 62, optimistis pemungutan suara Knesset pada hari Minggu akan berarti kematian politik Netanyahu.

"Ini hari Sabtu terakhir kami di sini. Kami menang. Besok Knesset akan memilih dan perdana menteri ini akan pergi. Bagus. Dia akan pergi," katanya.

Aksi protes anti-Netanyahu telah digelar setiap hari Sabtu sejak Juli tahun lalu untuk mengecam penanganannya terhadap pandemi covid-19 dan ekonomi di negara tersebut.

Para pengunjuk rasa mengutuk Netanyahu yang menjadi perdana menteri Israel pertama yang didakwa saat menjabat, dan diadili karena korupsi. (AFP/OL-5)

BERITA TERKAIT