09 June 2021, 22:21 WIB

Iran, Negara Muslim Syiah yang Kuat dengan Jangkauan Regional


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

IRAN Ialah negara Syiah terbesar di dunia. Negeri itu punya saingan muslim utama yaitu Arab Saudi.

Berikut latar belakang negara yang pengaruhnya membentang dari Irak hingga Suriah, Libanon, dan Yaman, tetapi sedang bergulat dengan krisis ekonomi yang parah itu.

Dari monarki ke revolusi

Penerus bekas Kekaisaran Persia yang diperintah oleh raja disebut shah. Orang kuat militer Reza Shah Pahlavi naik takhta pada 1925 setelah bertahun-tahun terjadi pergolakan. Dia dipaksa turun tahta pada 1941 demi putranya Mohammad Reza setelah invasi Inggris Raya dan Uni Soviet.

Perdana Menteri Mohammad Mossadegh, yang telah menasionalisasi industri minyak yang dikendalikan Inggris, digulingkan dalam kudeta 1953 yang diatur oleh London dan Washington. Ulama Syiah Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin oposisi terhadap reformasi modernisasi shah, dideportasi pada 1964.

Demonstrasi dan pemogokan terhadap pemerintah pecah pada Januari 1978. Menghadapi protes yang memuncak, Shah meninggalkan negara itu pada Januari 1979. Khomeini, yang telah memimpin pemberontakan dari pengasingan kembali dengan penuh kemenangan pada Februari dari Prancis. Republik Islam diproklamasikan pada 1 April dengan Khomeini sebagai pemimpin tertinggi pertama.

Aturan ulama

Konstitusi Iran memberikan keputusan terakhir dalam semua urusan negara kepada pemimpin tertinggi, yang wewenangnya melebihi presiden terpilih. Peran tersebut diambil oleh Ayatollah Ali Khamenei setelah kematian Khomeini pada 1989.

Suatu dewan dari ulama yang terpilih yaitu majelis ahli mengawasi pekerjaan pemimpin tertinggi dan memiliki wewenang untuk memberhentikannya. Berikutnya ialah presiden, yang menjadi pemerintah dan dipilih selama empat tahun dengan hak pilih universal. Ulama moderat Hassan Rouhani, sekarang 72 tahun, menjadi presiden pada 2013 dan memenangkan masa jabatan kedua pada 2017.

Dia menggantikan Mahmoud Ahmadinejad yang populis. Ahmadinejad yang terpilih kembali pada 2009 telah memicu protes besar-besaran dan tindakan keras pemerintah.

Kekuasaan DPR dibatasi. Undang-undang tersebut diperiksa oleh Dewan Wali, terdiri dari 12 ulama dan ahli hukum, yang memiliki wewenang untuk menolak tindakan yang mereka anggap bertentangan dengan Islam atau konstitusi. Garda Revolusi, angkatan bersenjata yang terikat dengan ideologi negara, sangat berpengaruh.

Iran memiliki lebih dari selusin warga negara Barat yang banyak berkewarganegaraan ganda. Mereka ada di penjara atau tahanan rumah. Para aktivis menyebut hal itu sebagai tindakan penyanderaan terang-terangan untuk mendapatkan konsesi.

Rival dengan Saudi

Mayoritas Syiah Iran menyaingi Arab Saudi untuk pengaruh di Timur Tengah. Keduanya mengambil sisi yang berlawanan dalam berbagai konflik regional.

Teheran telah menjadi sponsor regional utama Presiden Suriah Bashar al-Assad melawan pemberontak Sunni yang didukung Riyadh sejak perang saudara pecah pada 2011.

 

Di Yaman, Iran mendukung pemberontak Syiah yang masih menguasai sebagian besar wilayah utara, termasuk ibu kota Sanaa, meskipun lebih dari enam tahun intervensi militer pimpinan Saudi.

Di Libanon, kelompok militan Syiah yang didukung Iran, Hizbullah, memainkan peran penting dalam kehidupan politik, sementara para pejuangnya sangat terlibat di negara tetangga Suriah untuk mendukung pemerintah Assad.

Perjanjian nuklir

Pada 2015, Iran mencapai kesepakatan penting dengan negara-negara besar setelah 12 tahun negosiasi terus-menerus untuk menerima batasan pada program nuklirnya dengan imbalan pelonggaran sanksi yang melumpuhkan.

Tetapi Presiden AS saat itu Donald Trump menarik diri dari kesepakatan yang diraih dengan susah payah pada 2018 dan menerapkan kembali sanksi.

Pihak-pihak lain telah berjanji untuk menjaga perjanjian itu tetap hidup dan pembicaraan telah diadakan di Wina untuk menyelamatkannya.

 

Iran adalah anggota pendiri Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan memiliki cadangan minyak terbesar keempat dan cadangan gas terbesar kedua di dunia. Tetapi negara itu menderita pengangguran kronis dan inflasi tinggi, sementara penerapan kembali sanksi Washington menyebabkan mata uangnya jatuh. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT