09 June 2021, 14:56 WIB

Alasan Israel terkait Hancurnya Gedung Media di Gaza


Henry Hokianto | Internasional

ISRAEL mengatakan pada Selasa (8/6) bahwa gedung media Gaza yang ditargetkannya oleh Hamas dimanfaatkan untuk menghambat pertahanan udara. Akan tetapi Associated Press, yang kantornya dihancurkan dalam serangan tersebut, meminta bukti.

Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Gilad Erdan, memberikan penjelasan rinci tentang keputusan untuk menyerang mereka saat ia bertemu dengan kepala kantor berita, Gary Pruitt, di kantor pusatnya di New York. "Unit tersebut sedang mengembangkan sistem jamming elektronik untuk digunakan melawan sistem pertahanan Iron Dome," kata Erdan mengacu kepada perisai antirudal yang mencegat roket Hamas.

Dia menawarkan bantuan Israel dalam membangun kembali biro Associated Press, yang merupakan salah satu kantor berita utama dunia bersama dengan Agence France-Presse dan Reuters. Dia tidak membayangkan karyawan AP mengetahui dugaan penggunaan gedung oleh Hamas.

 

"Israel melakukan semua yang mereka bisa untuk memastikan bahwa para pekerja atau masyarakat sipil tidak terluka karena operasi penting ini," ujarnya dalam pernyataan yang dirilis sehari setelah pertemuannya dengan para eksekutif AP. "Sebaliknya, Hamas ialah organisasi teroris genosida yang tidak menghargai pers. ia dengan sengaja menempatkan mesin terornya di wilayah masyarakat sipil, termasuk kantor-kantor yang digunakan oleh media internasional," ujarnya.

Memperluas pernyataan duta besar, Pasukan Pertahanan Israel juga mengatakan bahwa Hamas menyimpan peralatan khusus di gedung Menara Jala yang bertujuan untuk mengganggu Iron Dome. "Serangan tersebut dirancang untuk meruntuhkan gedung dan memastikan penghancuran sarana-sarana khusus," tuturnya. “Target tersebut bernilai militer tinggi bagi Hamas dan diperiksa sesuai dengan prosedur ketat di dalam IDF dan sesuai dengan hukum internasional."

 

AP dan kelompok hak media internasional sebelumnya menyerukan penyelidikan independen atas tuduhan bahwa menara Jala digunakan oleh kelompok Hamas. Tidak hanya itu, serangan tersebut juga menghancurkan kantor Al Jazeera, saluran televisi yang berbasis di Qatar yang sering membuat jengkel Israel dan negara-negara Arab lain dengan liputannya.

Serangan tersebut terjadi selama eskalasi militer pada 10 hingga 21 Mei. Hamas menembakkan roket ke Israel sebagai tanggapan atas provokasi di Jerusalem terhadap penduduk Palestina.

 

Serangan Israel telah membunuh 260 warga Palestina, termasuk 66 anak dan beberapa pejuang, serta melukai lebih dari 1.900 orang, ujar kementerian kesehatan Gaza.Sedangkan roket dan serangan lain yang ditembakkan dari Gaza membunuh 13 orang di Israel, termasuk anak kecil dan remaja Arab-Israel dan seorang tentara Israel, ujar petugas medis dan militer. Sekitar 357 orang terluka di Israel. (OL-14)

BERITA TERKAIT