09 June 2021, 07:56 WIB

Suriah Aktifkan Pertahanan Udara Lawan Agresi Israel


Nur Aivanni | Internasional

SISTEM pertahanan udara Suriah telah diaktifkan terhadap agresi Israel di Damaskus, kata kantor berita negara Sana pada Selasa (8/6) malam.

Pesawat-pesawat Israel tiba dari wilayah udara Lebanon, lapor Sana, mengatakan telah terjadi ledakan di Damaskus. Kantor berita itu tidak memberikan indikasi terkait korban ataupun kerusakan.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, pemantau perang yang berbasis di Inggris, melaporkan ledakan hebat terasa di Damaskus dan sekitar kota diikuti oleh serangan Israel terhadap posisi militer tentara Suriah.

Serangan udara itu, menurut Observatorium, menargetkan daerah dekat dengan bandara internasional Damaskus, serta batalyon angkatan udara Suriah di wilayah Dumayr, sekitar 50 kilometer (30 mil) dari Damaskus, di mana ledakan terjadi di depot senjata.

"Serangan udara juga terjadi di selatan Provinsi Homs, sementara ledakan terasa di Provinsi Hama dan Latakia di utara dan barat laut masing-masing," ungkap laporan.

"Serangan itu telah menyebabkan korban jiwa di Homs, di mana tim penyelamat telah dikirim ke lokasi yang ditargetkan," kata Observatorium, tanpa menyebutkan jumlah korban.

Kepala Observatorium Rami Abdul Rahman mengatakan itu adalah serangan Israel pertama di Suriah sejak perang baru-baru ini di Gaza antara Israel dan kelompok Hamas.

"Kami tidak mengomentari laporan di media asing," kata tentara Israel.

Baca juga: Israel Hancurkan Pos Tentara Suriah di Dataran Tinggi Golan

Sejak dimulainya perang di negara tetangga Suriah pada 2011, Israel telah melakukan ratusan serangan udara di wilayah Suriah dengan menargetkan posisi rezim serta pasukan sekutu Iran dan anggota gerakan Hizbullah Lebanon.

Israel secara teratur menegaskan kembali tidak akan membiarkan Suriah menjadi benteng musuh bebuyutannya Iran.

Perang di Suriah, yang dimulai pada 2011 dengan represi rezim terhadap protes pro-demokrasi, telah berkembang semakin kompleks selama dekade terakhir, dengan menarik lebih banyak pihak.

Menurut Observatorium, perang tersebut telah menewaskan hampir setengah juta orang.(AFP/OL-5)

BERITA TERKAIT