05 June 2021, 11:17 WIB

PM Kanada Desak Gereja Katolik Bertanggung Jawab


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

PERDANA Menteri Kanada Justin Trudeau mendesak Gereja Katolik untuk bertanggung jawab dan merilis catatan tentang sekolah asrama adat di bawah arahannya. Tepatnya, setelah penemuan jenazah 215 anak di kuburan tak bertanda.

Dia memperingatkan bahwa pemerintahnya siap mengambil langkah yang lebih kuat, termasuk tindakan hukum, untuk mendapatkan dokumen yang diminta keluarga korban. Dalam hal ini, jika gereja gagal untuk memenuhi permintaan tersebut.

Pemerintah Kanada dikejutkan oleh penemuan ratusan jenazah di Kamloops Indian Residential School di British Columbia. Sebab, hanya ada 50 kematian yang tercatat secara resmi di sana. Sekolah itu merupakan salah satu sekolah asrama yang didirikan seabad lalu, untuk mengasimilasi paksa masyarakat adat Kanada.

Baca juga: 215 Jasad Anak Ditemukan di Lahan Bekas Sekolah Asrama

"Sebagai seorang Katolik, saya sangat kecewa dengan posisi yang diambil Gereja Katolik sekarang dan dalam beberapa tahun terakhir," ujar Trudeau dalam konferensi pers.

Dia mengingat perjalanan ke Vatikan pada Mei 2017. Trudeua meminta permohonan maaf secara resmi dari Paus Fransiskus atas pelecehan terhadap siswa. Serta, akses ke catatan gereja untuk membantu penyelidikan lebih dari 4.100 siswa, yang diyakini meninggal karena penyakit atau kekurangan gizi.

"Kami masih melihat adanya perlawanan dari gereja," pungkasnya.

Baca juga: Kanada Hadapi Gelombang Ketiga Pandemi Covid-19 Parah

Trudeau pun mendesak umat Katolik Kanada untuk menjangkau paroki lokal, kepala uskup dan kardinal. Pihaknya berharap gereja bertanggung jawab atas perannya dalam kasus ini. Serta, membantu keluarga yang berduka dan penyembuhan, termasuk dengan merilis catatan.

"Itu adalah sesuatu yang telah dilakukan oleh sejumlah gereja lain. Itu adalah sesuatu yang kita semua masih tunggu untuk dilakukan Gereja Katolik," tukas dia.

Sekolah Kamloops di British Columbia, tempat kuburan tak bertanda ditemukan pada pekan lalu, dioperasikan oleh Gereja Katolik atas nama pemerintah pada 1890-1969. Sekitar 150.000 anak muda India, Inuit dan Metis terdaftar di 139 sekolah asrama. Para siswa dilecehkan secara fisik dan seksual, serta kebudayaan dan bahasa mereka dilucuti.(Straitstimes/OL-11)

BERITA TERKAIT