03 June 2021, 13:07 WIB

Kanada Imbau Paus Minta Maaf Terkait Penemuan 215 Jenazah


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

PEMERINTAH Kanada meminta pemimpin Katolik Paus Fransiskus untuk menyampaikan permintaan maaf resmi atas peran yang dimainkan gereja Katolik dalam sistem sekolah asrama Kanada.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah ditemukannya 215 kerangka anak di tempat yang dulunya merupakan sekolah terbesar di Kanada.

Perdana Menteri (PM) Kanada Justin Trudeau juga berjanji untuk mendukung upaya guna menemukan lebih banyak kuburan tak bertanda di bekas sekolah asrama yang menampung anak-anak pribumi yang diambil dari keluarga di seluruh negeri.

Kepala Rosanne Casimir dari Tk'emlups te Secwepemc First Nation di British Columbia mengatakan jenazah 215 anak yang terdapat di sekolah di Kamloops, British Columbia dikonfirmasi bulan lalu dengan bantuan radar penembus tanah. Sejauh ini belum ada jenazah yang digali.

Sekolah Kamloops Indian Residential adalah fasilitas terbesar di Kanada. Sekolah itu dioperasikan gereja Katolik Roma antara tahun 1890-1969 sebelum pemerintah federal mengambil alih sebagai sekolah harian sampai tahun 1978 ketika ditutup.

Hampir tiga perempat dari 130 sekolah dijalankan oleh kongregasi misionaris Katolik.

Permintaan maaf kepausan adalah salah satu dari 94 rekomendasi yang dibuat oleh Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi, yang dibentuk sebagai bagian dari permintaan maaf dan penyelesaian pemerintah atas sekolah.

PM Kanada Trudeu meminta Paus untuk mempertimbangkan sikap seperti itu selama kunjungan ke Vatikan pada tahun 2017.

Konferensi Waligereja Katolik Kanada mengumumkan pada tahun 2018 bahwa Paus tidak dapat secara pribadi meminta maaf atas sekolah-sekolah asrama.

Kendati, Paus tidak menampik ketidakadilan yang dihadapi oleh masyarakat adat di seluruh dunia.

“Saya pikir memalukan bahwa itu belum dilakukan hingga saat ini,” kata Menteri Layanan Adat Kanada Marc Miller. “Ada tanggung jawab yang terletak tepat di pundak para uskup Katolik Kanada,” tambahnya.

Menteri Hubungan Masyarakat Adat Kanada, Carolyn Bennett, menambahkan bahwa permintaan maaf oleh paus akan membantu mereka yang menderita untuk pulih.

“Mereka ingin mendengar Paus meminta maaf,” katanya.

Dari abad ke-19 hingga 1970-an, lebih dari 150.000 anak-anak Bangsa Pertama diminta untuk menghadiri sekolah-sekolah Kristen yang didanai negara sebagai bagian dari program untuk mengasimilasi mereka ke dalam masyarakat Kanada.

Mereka dipaksa masuk Kristen dan tidak diizinkan berbicara bahasa ibu mereka. Banyak yang dipukuli dan dicaci maki, dan hingga 6.000 orang dikabarkan telah meninggal.

Pemerintah Kanada meminta maaf di parlemen pada tahun 2008 dan mengakui bahwa kekerasan fisik dan seksual di sekolah-sekolah merajalela. Banyak siswa ingat dipukuli karena berbicara bahasa mereka. Mereka juga kehilangan kontak dengan orang tua dan adat istiadat mereka.

Trudeau mengatakan pemerintah akan membantu melestarikan situs kuburan dan mencari tempat pemakaman potensial di bekas sekolah asrama lainnya. Tetapi Trudeau dan para menterinya telah menekankan perlunya masyarakat adat untuk memutuskan sendiri bagaimana mereka ingin melanjutkan.

“Kami akan berada di sana untuk mendukung setiap komunitas yang ingin melakukan pekerjaan ini,” kata Bennett.

“Kami tahu sekarang bahwa pekerjaan itu mendesak,” imbuhnya.

Pemerintah Kanada sebelumnya mengumumkan dana sebesar C$27 juta atau US$22 juta untuk upaya tersebut. Bennett menyebut itu sebagai langkah pertama.

"Saya tahu orang-orang sangat menginginkan jawaban, tetapi kita harus menghormati privasi dan masa berkabung komunitas yang mengumpulkan pemikiran mereka dan menyusun protokol tentang bagaimana menghormati anak-anak ini," kata Miller.

Para pemimpin adat berencana untuk membawa ahli forensik untuk mengidentifikasi dan memulangkan kerangka anak-anak yang ditemukan terkubur di situs Kamloops. Kepala Majelis Bangsa-Bangsa Pertama, Perry Bellegarde berbicara dengan Trudeau pekan ini.

Bellegarde mendesak Trudeau untuk bekerja dengan Bangsa-Bangsa Pertama untuk menemukan semua kuburan tak bertanda dari anak-anak mereka yang dicuri.

Mantan ketua komisi rekonsiliasi, Murray Sinclair mengatakan lebih banyak makam tak bertanda akan ditemukan.

“Kami tahu ada banyak situs yang mirip dengan Kamloops yang akan terungkap di masa depan. Kita harus mulai mempersiapkan diri untuk itu,” kata Sinclair. (Aiw/The Guardian/OL-09)

BERITA TERKAIT