03 June 2021, 11:18 WIB

Twitter Hapus Cicitan Presiden Nigeria


Lidya Tannia Bangguna | Internasional

TWITTER, Rabu (3/6), menghapus komentar di akun Presiden Nigeria Muhammadu Buhari karena melanggar aturan komunitas Twitter, setelah ia menyebut kerusuhan yang terjadi baru-baru ini di negaranya sebagai perang saudara.

Buhari diketahui membuat pernyataan itu, Selasa (2/6), di akun Twitternya, mengacu pada kejadian kekerasan baru-baru ini, saat para pejabat menyalahkan separatis atas serangan terhadap polisi dan kantor pemilihan.

Setengah abad yang lalu, 1 juta orang tewas dalam perang saudara selama 30 bulan setelah jenderal-jenderal separatis mendeklarasikan wilayah merdeka bagi orang-orang Igbo di tenggara Nigeria.

Baca juga: Berhasil Bentuk Koalisi, Oposisi Israel Siap Gantikan Netanyahu

"Banyak dari mereka yang berperilaku buruk saat ini dan terlalu muda untuk menyadari kehancuran dan hilangnya nyawa yang terjadi selama Perang Saudara Nigeria," cicit Buhari.

"Kami yang berada di ladang selama 30 bulan, yang menjalani perang, akan memperlakukan mereka dalam bahasa yang mereka pahami," lanjutnya.

Twitter pun menghapus komentar itu dengan mengatakan itu telah melanggar aturan mereka.

Namun, pernyataan serupa masih ada di akun Twitter resmi kepresidenan Nigeria.

Buhari lantas tidak terima dengan tindakan Twitter tersebut.

Menurutnya, jika Twitter memiliki aturannya sendiri, presiden pun memiliki hak untuk mengomentari situasi di Nigeria.

Ia pun menuduh Twitter mengabaikan pesan dari Nnamdi Kanu, pemimpin Masyarakat Adat Biafra yang dilarang, atau kelompok separatis IPOB, yang katanya mempromosikan kekerasan.

Buhari juga merujuk pada panggilan CEO Twitter, Jack Dorsey tahun lalu untuk sumbangan bitcoin ke protes #EndSARS di Nigeria terhadap kebrutalan polisi.

"Kami memiliki negara untuk diperintah dan kami akan melakukannya dengan kemampuan terbaik kami," kata Buhari kepada wartawan.

"Misi Twitter di Nigeria yang mengutip dua contoh itu sangat mencurigakan. Apa agenda mereka?"

Menurut perhitungan media setempat, Nigeria Tenggara telah mengalami lonjakan serangan baru-baru ini, dengan sekitar 130 polisi dan pejabat keamanan tewas, dan sekitar 20 kantor polisi diserang tahun ini.

IPOB, yang memperjuangkan negara bagian Igbo yang terpisah, telah membantah sayap paramiliternya, Jaringan Keamanan Timur, berada di balik kekerasan tersebut, menuduh pemerintah melakukan kampanye kotor.

Jalan-jalan di Nigeria tenggara sepi, awal pekan ini, saat bekas wilayah separatis memperingati lebih dari 1 juta orang yang tewas dalam perang Biafra dan kelaparan setengah abad yang lalu.

Seruan untuk kemerdekaan dan tuntutan regionalis lainnya telah muncul kembali sejak Buhari, mantan penguasa militer dan seorang Fulani dari utara, menjadi presiden pada 2015 dan terpilih kembali pada 2019. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT