02 June 2021, 11:31 WIB

Pertama Strain Flu Burung H10N3 Infeksi Manusia di Tiongkok


Atikah Ishmah Winahyu |

SEORANG pria berusia 41 tahun di Provinsi Jiangsu, Tiongkok timur telah dikonfirmasi sebagai kasus manusia pertama yang terinfeksi jenis flu burung H10N3.

“Pria tersebut yang merupakan seorang penduduk Kota Zhenjiang, pergi ke rumah sakit pada 28 April setelah mengalami demam dan gejala lainnya,” kata komisi kesehatan nasional Tiongkok.

“Dia didiagnosis mengidap virus flu burung H10N3 pada 28 Mei,” lanjut komisi tersebut, meskipun tidak memberikan rincian tentang bagaimana pria itu terinfeksi.

Baca juga: Flu Burung, 14 Ribu Kalkun di Jerman Timur Dimusnahkan

Kondisi pria itu stabil dan siap untuk keluar dari rumah sakit. Pengamatan medis dari kontak dekatnya tidak menemukan kasus lain.

“Tidak ada kasus lain dari infeksi H10N3 pada manusia yang sebelumnya dilaporkan secara global,” terangnya.

H10N3 adalah strain virus patogen rendah, atau relatif kurang parah, yang ditemukan pada unggas, dan risiko penyebarannya dalam skala besar sangat rendah, komisi itu menambahkan.

“Strain itu bukan virus yang sangat umum,” kata Koordinator Laboratorium Regional dari Pusat Darurat Penyakit Hewan Lintas Batas Organisasi Pangan dan Pertanian, Filip Claes di kantor regional Asia dan Pasifik.

“Hanya sekitar 160 isolat virus yang dilaporkan dalam 40 tahun hingga 2018, sebagian besar pada burung liar atau unggas air di Asia dan di beberapa daerah terbatas di Amerika Utara, dan sejauh ini tidak ada yang terdeteksi pada ayam,” jelasnya.

Baca juga: Rusia Endus Kasus Pertama Penularan Flu Burung H5N8 ke Manusia

“Menganalisis data genetik virus akan diperlukan untuk menentukan apakah itu mirip dengan virus yang lebih tua atau apakah itu campuran baru dari virus yang berbeda,” tambahnya.

Banyak jenis flu burung yang berbeda hadir di Tiongkok dan beberapa menginfeksi orang secara sporadis, biasanya mereka yang bekerja dengan unggas. Tidak ada jumlah yang signifikan dari infeksi flu burung pada manusia sejak strain H7N9 membunuh sekitar 300 orang selama 2016-2017. (Aiw/The Guardian/OL-09)

BERITA TERKAIT