19 May 2021, 07:27 WIB

Dituding Libanon Bertanggung Jawab Atas IS, Arab Saudi Marah


Basuki Eka Purnama | Internasional

ARAB Saudi, Selasa (18/5), memanggil Duta Besar Libanon untuk memprotes pernyataan 'menghina' yang dilontarkan Menteri Luar Negeri Libanon bahwa negara-negara Teluk bertanggung jawab atas hadirnya kelompok ekstremis Islamic State (IS).

Arab Saudi tampaknya menjauhkan diri dari mantan sekutunya itu setelah Libanon kini dikuasai kekuatan syiah, Hezbollah, yang didukung oleh rival Riyadh, Iran.

Menteri Luar Negeri Libanon Charbel Wehbe memicu ketegangan dengan Arab Saudi setelah pada Senin (17/5), dalam debat di televisi, mengatakan negara-negara Teluk berada di balik munculnya kelompok-kelompok ekstremis di Irak dan Suriah.

Baca juga: Korban Tewas Meningkat dalam Konflik Israel-Gaza

Wehbe mengatakan itu saat berdebat dengan perwakilan Arab Saudi dalam acara televisi itu setelah dia menuding Presiden Libanon Michel Aoun menyerahkan negaranya ke tangah Hezbollah.

Dalam sebuah pernyataan resmi, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dengan keras mengencam pernyataan menghina Wehbe dan menyebutnya tidak sejalan dengan norma-norma diplomasi.

"Kementerian telah memanggil Duta Besar Libanon untuk mengungkapkan penolakan dan kecaman kerajaan atas komenter Menteri Luar Negeri Libanon," ungkap Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dilansir kantor berita Saudi Press Agency.

Wehbe, Selasa (18/5), meminta maaf dan mengaku tidak bermaksud menyinggung Arab Saudi.

Dalam pernyataan terpisah, Sekretaris Jenderal Komisi Kerja Sama Teluk Nayef al-Hajraf menuntut Wehbe meminta maaf secara resmi terkait pernuataannya.

Pemerintah Libanon pun dengan cepat menjauhkan diri dari pernyataan Wehbe yang membuat marah Arab Saudi itu.

Aoun, dalam sebuah pernyataan, mengatakan apa yang dikatakan Wehbe adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan posisi Libanon sembari menggarisbawahi hubungan akrab Libanon dengan Arab Saudi dan negara Teluk lainnya. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT