18 May 2021, 09:56 WIB

Warga Myanmar Kabur ke Hutan Cari Perlindungan


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

RIBUAN penduduk kota perbukitan di barat laut Myanmar bersembunyi di hutan, desa dan lembah pada Senin (17/5) setelah melarikan diri dari serangan pasukan keamanan negara. Sementara itu tentara kembali ke kota setelah berhari-hari memerangi milisi lokal.

Mindat, sekitar 100 km dari perbatasan India di negara bagian Chin, telah menyaksikan beberapa pertempuran paling sengit sejak kudeta 1 Februari yang telah menyebabkan munculnya tentara lokal yang menahan upaya junta untuk mengonsolidasikan kekuasaan.

Darurat militer dideklarasikan di Mindat pada hari Kamis sebelum tentara melancarkan serangannya, menggunakan artileri dan helikopter melawan Pasukan Pertahanan Chinland yang baru dibentuk, sebuah milisi yang sebagian besar dipersenjatai dengan senapan berburu, yang mengatakan mereka mundur untuk menyelamatkan warga sipil agar tidak terjebak dalam baku tembak.

Beberapa penduduk mengatakan persediaan makanan tidak mencukupi dan diperkirakan sebanyak 5.000 hingga 8.000 orang telah meninggalkan kota, dengan jalan-jalan diblokir dan kehadiran pasukan di jalan-jalan mencegah mereka kembali.

"Hampir semua orang meninggalkan kota," kata seorang pejuang sukarelawan yang mengatakan dia berada di hutan.

"Kebanyakan dari mereka bersembunyi,” imbuhnya.

Baca juga: Majelis Umum PBB Siapkan Seruan Embargo Senjata Myanmar

Seorang perwakilan dari kelompok administratif masyarakat setempat di Mindat mengatakan dia termasuk di antara sekitar 200 orang yang melintasi jalan berbatu dan perbukitan dengan membawa selimut, nasi, dan periuk.

Dia mengatakan kelompok itu diserang dengan senjata berat ketika pasukan melihat asap dari api yang mereka gunakan untuk memasak.

"Kami harus pindah dari satu tempat ke tempat lain. Kami tidak bisa menetap di suatu tempat di hutan," katanya.

"Beberapa pria ditangkap saat mereka pergi ke kota untuk mendapatkan lebih banyak makanan untuk kami. Kami tidak dapat masuk ke kota saat ini. Kami akan kelaparan dalam beberapa hari,” tambahnya.

Pasukan Pertahanan Chinland dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, mengatakan, telah membunuh lima tentara pemerintah di Hakha, kota lain di Negara Bagian Chin.

UNICEF dalam sebuah tweet mendesak pasukan keamanan untuk memastikan keselamatan anak-anak di Mindat, seruan internasional terbaru untuk menahan diri usai kelompok hak asasi manusia, Amerika Serikat dan Inggris mengutuk penggunaan senjata perang terhadap warga sipil.

AS, Inggris dan Kanada pada hari Senin mengumumkan lebih banyak sanksi terhadap bisnis dan individu yang terkait dengan junta. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mendesak lebih banyak negara untuk mengikutinya.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak kudeta, dengan militer berjuang menghalau perlawanan bersenjata dan damai di berbagai bidang, menambah kekhawatiran tentang keruntuhan ekonomi dan krisis kemanusiaan dari konflik lama yang berkobar di wilayah perbatasan.

Para pejuang di Negara Bagian Chin mengatakan mereka adalah bagian dari Pasukan Pertahanan Rakyat dari pemerintahan bayangan, yang telah meminta bantuan komunitas internasional.

Dalam upaya mengoordinasikan pasukan anti-junta, pemerintah bayangan pada hari Senin mengeluarkan daftar instruksi kepada semua tentara sipil, yang dikatakan harus beroperasi di bawah komando dan kendali.

Kelompok bantuan yang berhubungan langsung dengan penduduk Mindat melakukan panggilan darurat di media sosial pada hari Senin untuk memberikan sumbangan atau makanan, pakaian dan obat-obatan.

Salai, 24, yang telah mengatur tanggap darurat, mengatakan dia telah berbicara dengan orang-orang yang bersembunyi di lembah dan di tanah pertanian yang melarikan diri dari serbuan tentara.

"Mereka menjarah harta benda orang. Mereka membakar rumah orang. Benar-benar menjengkelkan," kata Salai.

"Beberapa orang di kota terluka oleh tembakan, termasuk seorang gadis muda. Dia tidak bisa mendapatkan perawatan medis,” ungkapnya.

Dalam buletin berita malamnya, MRTV yang dikelola pemerintah mengatakan pasukan keamanan membalas tembakan setelah diserang oleh pemberontak di Mindat, yang melarikan diri, dan pasukan pemerintah telah diserang di tempat lain di Negara Bagian Chin.

Sejauh ini, 790 orang telah tewas dalam tindakan keras junta terhadap lawan-lawannya, menurut kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik.

Militer membantah angka tersebut. Militer mengatakan mereka melakukan intervensi setelah adanya dugaan penipuan dalam pemilihan November yang dimenangkan oleh partai Aung San Suu Kyi diabaikan.

Kelompok pemantau internasional pada hari Senin mengatakan hasil pemilihan itu pada umumnya, mewakili keinginan rakyat Myanmar.(Straitstimes/OL-5)

BERITA TERKAIT