04 May 2021, 08:15 WIB

Usai Dikritik, Biden Izinkan Hingga 62.500 Pengungsi ke AS


Nur Aivanni | Internasional

PRESIDEN AS Joe Biden mengumumkan akan menaikkan jumlah maksimum pengungsi yang diizinkan masuk ke Amerika Serikat tahun ini menjadi 62.500. Angka ini naik dari 15.000 yang diberlakukan oleh pendahulunya, Donald Trump. Perubahan itu menyusul reaksi keras dari sekutu atas keputusan Biden sebelumnya untuk menjaga batasan era Trump.

"Ini menghapus angka rendah secara historis yang ditetapkan oleh pemerintahan sebelumnya yang berjumlah 15.000, yang tidak mencerminkan nilai-nilai Amerika sebagai negara yang menyambut dan mendukung pengungsi," kata Biden dalam sebuah pernyataan.

"Batas penerimaan baru juga akan memperkuat upaya yang sedang dilakukan untuk memperluas kapasitas Amerika Serikat untuk menerima pengungsi, sehingga kami dapat mencapai target penerimaan 125.000 pengungsi yang ingin saya tetapkan untuk tahun fiskal mendatang," jelasnya.

Hal tersebut dengan cepat disambut baik oleh Komite Hubungan Luar Negeri Senat, yang dikendalikan oleh Partai Demokrat.

"Saya menyambut baik pengumuman pemerintahan Biden yang akan meningkatkan jumlah pengungsi yang diizinkan untuk dimukimkan kembali di Amerika Serikat. Ini adalah langkah penting dalam melanjutkan tradisi bipartisan yang kami banggakan dalam memberikan perlindungan pengungsi melalui pemukiman kembali," cuit Ketua Komite Senator Bob Menendez di Twitter.

Baca juga: PBB Terima Laporan Tanzania Tolak 1.000 Pengungsi Mozambik

American Civil Liberties Union, sebuah kelompok advokasi yang kuat, juga menyuarakan persetujuan, dengan mengatakan bahwa reputasi negara itu dipertaruhkan.

"Kami senang melihat Presiden Biden telah meninggalkan tujuan pengungsi yang buruk dari pemerintahan Trump dan berkomitmen kembali untuk memprioritaskan membantu orang-orang yang melarikan diri dari penganiayaan di seluruh dunia," kata perwakilan ACLU Manar Waheed.

"Kami menyadari tujuannya mungkin tidak mudah dan membutuhkan pembangunan kembali sistem yang dihancurkan oleh pemerintahan Trump, tetapi kandidat Biden berjanji," kata Waheed.

"Dia harus memenuhi janji itu, nyawa dipertaruhkan," tuturnya.

Trump melarang pengungsi sebagai bagian dari kebijakan perbatasan garis keras di jantung platform politik nasionalisnya. Biden pun berkampanye dengan janji untuk memulihkan sikap AS yang lebih tradisional. Namun dia kemudian mundur setelah pemerintahannya mengalami kesulitan dalam menangani gelombang migran yang memasuki negara itu secara ilegal, atau menuntut suaka, di perbatasan Meksiko.(AFP/OL-5)

BERITA TERKAIT