03 May 2021, 17:55 WIB

Pemberontak Myanmar Klaim Tembak Jatuh Helikopter Militer


Nur Aivanni | Internasional

KELOMPOK pemberontak etnis Myanmar yang terkemuka mengatakan telah menembak jatuh sebuah helikopter militer pada Senin, sehari setelah tindakan keras junta yang baru terhadap aksi protes anti-kudeta.

Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA) mengatakan telah menjatuhkan helikopter tempur tersebut selama bentrokan yang sengit di dekat kota Momauk di ujung utara negara itu.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dan merebut kekuasaan pada 1 Februari.

Pasukan keamanan berusaha untuk memadamkan aksi protes pro-demokrasi yang berlangsung hampir setiap hari dengan kekuatan yang mematikan, sementara konflik berkepanjangan dengan pemberontak etnis telah meletus menjadi pertempuran sengit.

KIA, yang telah melancarkan pemberontakan selama puluhan tahun terhadap militer di negara bagian Kachin utara, telah dilanda serangan udara dalam beberapa pekan terakhir.

Baca juga: Dua Pangkalan Udara Myanmar Diserang Kelompok Tak Dikenal

"Mereka menggunakan jet tempur dan helikopter tempur sejak pukul 08.00 pagi ini untuk menyerang pasukan kami. Pasukan kami balas menembak dan begitulah cara helikopter itu ditembak jatuh," kata Juru Bicara KIA Kolonel Naw Bu, yang menolak memberikan rincian persenjataan yang digunakan untuk menjatuhkan helikopter.

AFP telah mencoba menghubungi militer Myanmar untuk meminta tanggapan mereka atas kejadian tersebut, tetapi belum mendapat respons.

Sejumlah kelompok pemberontak etnis Myanmar telah mendukung gerakan protes anti-kudeta, dengan menawarkan perlindungan dan bahkan pelatihan bagi para aktivis yang melarikan diri dari tindakan keras tersebut.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP), sebuah kelompok pemantau lokal, mengatakan bahwa setidaknya lima warga sipil tewas dalam operasi untuk membubarkan aksi protes pada Minggu.

AAPP mengatakan itu adalah korban tewas satu hari tertinggi sejak KTT ASEAN tentang krisis Myanmar bulan lalu.

Sebanyak 765 warga sipil telah tewas dalam tindakan keras tersebut, menurut AAPP, meskipun pihak militer mempermasalahkan jumlah korban tersebut, dengan memberikan angka yang jauh lebih rendah.

Lebih dari 4.500 orang telah ditangkap, kata kelompok pemantau itu, termasuk puluhan jurnalis. (AFP/OL-4)

BERITA TERKAIT