23 April 2021, 13:40 WIB

Kapal Karam, Ratusan Pencari Suaka Dikhawatirkan Tewas di Libia


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

SEKITAR 120 pencari suaka dikhawatirkan tewas setelah perahu karet mereka terbalik akibat badai di lepas pantai Libia ketika mereka berusaha mencapai Eropa.

Puluhan mayat terlihat di dekat perahu yang terbalik pada Kamis (22/4), yang membawa sekitar 130 orang di dalamnya.

Menurut rekonstruksi awal peristiwa, kelompok kemanusiaan Eropa SOS Méditerranée telah diberitahu pada Selasa (20/4) via telepon darurat penyelamatan Mediterania yang dikelola sukarelawan, Alarm Phone.

Mereka melaporkan kehadiran tiga kapal yang mengalami kesulitan di perairan internasional di lepas pantai Libya. Gelombang di daerah itu mencapai ketinggian hingga enam meter.

Kapal SOS Méditerranée, Ocean Viking, serta kapal dagang, menuju ke wilayah tersebut dan tidak menemukan yang selamat. Setidaknya 10 mayat telah ditemukan.

"Hari ini, setelah berjam-jam melakukan pencarian, ketakutan terburuk kami menjadi kenyataan," kata koordinator pencarian dan penyelamatan di kapal Ocean Viking, Luisa Albera.

“Awak dari Ocean Viking harus menyaksikan dampak yang menghancurkan dari bangkai perahu karet di timur laut Tripoli. Perahu ini dilaporkan mengalami kesulitan dengan sekitar 130 orang di dalamnya pada Rabu (21/4) pagi.”

“Kami patah hati. Kami memikirkan nyawa yang telah hilang dan tentang keluarga yang mungkin tidak pernah memiliki kepastian tentang apa yang terjadi pada orang yang mereka cintai,” lanjutnya.

Alarm Phone mengatakan, "Orang-orang bisa saja diselamatkan tapi semua pihak berwenang dengan sengaja membiarkan mereka mati di laut."

Layanan hotline mengklaim telah melakukan kontak dengan kapal yang sedang dalam kesulitan selama 10 jam pada 21 April 2021 dan berulang kali menyampaikan posisi GPS serta situasi mengerikan tersebut kepada otoritas Eropa dan Libia serta masyarakat luas.

Namun, dikatakan bahwa semua otoritas Eropa menolak tanggung jawab untuk mengoordinasikan operasi pencarian dan justru menunjuk otoritas Libya sebagai otoritas kompeten.

"Penjaga pantai Libia, bagaimanapun, menolak untuk meluncurkan atau mengkoordinasikan operasi penyelamatan, meninggalkan 130 orang di laut yang ganas sepanjang malam," katanya.

“Kurangnya sistem patroli yang efisien tidak dapat disangkal dan tidak dapat diterima,” kata juru bicara badan migrasi PBB di Italia, Flavio Di Giacomo di Twitter. “Banyak hal perlu diubah,” imbuhnya.

Pada Rabu (21/4), Ocean Viking menghabiskan sepanjang hari mencari kapal lain yang membawa sekitar 40 orang tanpa hasil.

Setelah menyelamatkan ribuan orang di Mediterania, sejumlah kapal penyelamat LSM terjebak di pelabuhan Italia setelah pihak berwenang memerintahkan penyitaan mereka. Lusinan investigasi telah diluncurkan oleh jaksa Italia terhadap LSM dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar kemudian dibatalkan.

Dalam penyelidikan bersama dengan penyiar publik Italia Rai News dan surat kabar Domani, yang diterbitkan Jumat (16/4) lalu, The Guardian telah melihat dokumen dari jaksa penuntut di Trapani, Sisilia, yang merinci percakapan pribadi antara setidaknya tiga penjaga pantai senior Libi dan pejabat Italia.

Mereka mengungkap ketidakpedulian individu-individu di pihak Libya atas penderitaan para migran dan hukum internasional serta perilaku tidak kooperatif mereka yang diduga mengakibatkan kematian ratusan migran.

“Lebih dari 350 orang tewas di bentangan laut tersebut tahun ini, tidak termasuk korban hari Kamis,” kata SOS Méditerranée.

Pekan lalu badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) dan Organisasi Internasional untuk Migrasi mengatakan bahwa sedikitnya 41 orang, termasuk seorang anak, meninggal setelah sebuah kapal yang membawa migran Afrika ke Eropa tenggelam di lepas Tunisia. (Aiw/The Guardian/OL-09)

BERITA TERKAIT