19 April 2021, 11:33 WIB

Ibu-ibu Ethiopia Masak untuk Buka Puasa Masyarakat Indonesia


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

PADA bulan suci Ramadan tahun ini, ada pemandangan menarik di Kedutaan Besar RI (KBRI) Addis Ababa, Ethiopia. Ibu-ibu Ethiopia yang sudah berusia lanjut memasak masakan Indonesia bersama Chef Adi Putra Candra untuk menu berbuka puasa masyarakat Indonesia.

Ibu-ibu itu bernama Ashu Dema, 70, Almaz Negusea, 65, dan Askale Weldrufail, 63.

“Mereka pintar memasak masakan Indonesia dan sudah bekerja di KBRI Addis Ababa selama puluhan tahun. Bahkan ada yang lebih setengah abad. Ibu Ashu sudah bekerja di KBRI Addis Ababa selama 56 tahun karena mulai bekerja pada usia 14 tahun,” kata Ketua Darma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Addis Ababa Wenny Busyra, dalam keterangan tertulis, Senin (19/4).

Baca juga: Kecelakaan Kereta di Mesir, 11 Orang Tewas

“Kehadiran ibu-ibu Ethiopia itu sangat membantu kegiatan KBRI Addis Ababa, terutama yang berkaitan dengan penyiapan masakan Indonesia untuk konsumsi tamu-tamu KBRI Addis Ababa,” imbuh Sekretaris DWP Addis Ababa Savira Dina Wasito.

Pada acara lomba memasak masakan Indonesia dalam rangka peringatan Hari Ibu 22 Desember 2020, Ashu, Almaz dan Askale ikut menjadi juri lomba karena mereka tahu dan bisa memasak masakan Indonesia dengan baik.

Lomba memasak yang diadakan di taman terbuka KBRI itu diikuti oleh masyarakat Ethiopia dan Indonesia.

Suasana puasa Ramadan di Ethiopia tidak jauh berbeda dari 2020 karena harus menyesuaikan dengan protokol covid-19. Masyarakat Indonesia menyelenggarakan ibadah tarawih di KBRI Addis Ababa sekali seminggu, setiap Sabtu malam. Ibadah tarawih pertama diselenggarakan Sabtu (18/4).

“Saat ini, jumlah masyarakat Indonesia di Ethiopia sekitar 90 orang. Sebanyak 50 orang di Addis Ababa dan 40 orang di Kota Hawassa, 270 km selatan Addis Ababa,” kata Duta Besar RI untuk Ethiopia, Djibouti dan Uni Afrika Al Busyra Basnur.

Ethiopia berpenduduk sekitar 112 juta, mayoritas menganut agama Kristen Ortodok (43,5 %), Islam (33,9 %), Protestan (18,6 %), Tradisional (2,6 %), Katolik (0,7 %), dan Yahudi (kurang 1 %). (OL-1)

BERITA TERKAIT