15 April 2021, 21:26 WIB

Perang Bayangan Iran-Israel yang semakin Panas


Mediaindonesia.com | Internasional

MUSUH bebuyutan Israel dan Iran telah lama berperang dalam bayangan di Timur Tengah. Negeri Yahudi itu mendaratkan pukulan bertubi-tubi di Libanon, Suriah, dan dalam republik Islam itu sendiri.

Baru-baru ini, pertempuran keduanya telah berpindah ke laut lepas dengan serangkaian serangan misterius dan insiden sabotase terutama di Laut Merah dan Laut Arab. Analis sekarang khawatir serangan balas dendam bisa meningkat, memperingatkan bahwa mereka mulai bermain api.

Israel telah berjanji untuk menghentikan Iran. Para pemimpin Iran mengancam akan menghapus Israel dari peta. Caranya dengan membuat bom nuklir yang tujuan tersebut selalu dibantah oleh Teheran.

Republik Islam sementara itu telah memberikan senjata, pelatihan, dan dana kepada milisi sekutu dalam poros perlawanan regional melawan negara Yahudi dan sekutunya, Amerika Serikat.

 

Dalam serangan terbaru yang dituduhkan Iran kepada Israel, ledakan menghantam fasilitas pengayaan Iran di Natanz pada Minggu (11/4). Hal tersebut mempersulit upaya diplomatik untuk menyelamatkan kesepakatan pada 2015 yang kini compang-camping tentang program nuklir Teheran.

Kemudian pada Selasa (13/4), kapal yang dioperasikan Israel, Hyperion Ray, diserang di dekat pelabuhan Fujairah di Emirat. Ini yang terbaru dari serangkaian serangan lepas pantai.

Misi mata-mata dan pembunuhan

srael sering melawan sekutu Teheran, termasuk Hizbullah di Libanon, Hamas di Gaza Palestina, dan pejuang pro-Iran di Suriah. Negara Yahudi itu juga telah meluncurkan serangan siber dan misi mata-mata, seperti operasi Mossad 2018 yang menjaring harta karun dokumen nuklir Iran dari gudang Teheran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam beberapa tahun terakhir senang memiliki sekutu Gedung Putih di Donald Trump, yang melancarkan kampanye tekanan maksimum garis keras terhadap Iran.

Trump pada 2018 merobek perjanjian 2015 yang telah memberikan keringanan sanksi kepada Iran dengan imbalan pembatasan aktivitas nuklirnya. Kesepakatan itu selalu ditolak Israel dengan dalih tidak memadai.

Di bawah Trump, AS juga membunuh Jenderal Iran Qasem Soleimani yang dihormati dalam serangan pesawat tak berawak di Baghdad awal tahun lalu. Langkah ini membawa Teheran dan Washington ke ambang perang.

Israel kemudian disalahkan atas pembunuhan fisikawan nuklir terkemuka Iran Mohsen Fakhrizadeh di Teheran November lalu, ilmuwan atom Iran terbaru yang mengalami serangan di siang bolong.

Tetapi dinamika telah bergeser sejak Presiden AS Joe Biden mengambil alih kekuasaan dan memulai upaya untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir, sambil mengambil sikap yang lebih dingin ketimbang Netanyahu.

Perang laut

Sima Shine dari Institut Studi Keamanan Nasional Israel mengatakan perang bayangan Iran dengan Israel dapat diperdebatkan. Tapi dia menggambarkan rangkaian peristiwa yang berkaitan dengan bidang nuklir dan upaya Iran untuk membangun dirinya di Suriah dan upaya Israel untuk menghentikannya.

"Dalam beberapa minggu terakhir kami juga melihat perang laut terungkap secara terbuka, setelah dirahasiakan selama dua tahun, antara Iran dan Israel," katanya.

Iran pertama kali mengisyaratkan serangan terhadap kapal tankernya di Laut Merah pada 2019. Ketika itu Israel berusaha mengekang dugaan transfer senjata Iran dan pengiriman minyak ke sekutunya.

Kemudian 25 Februari, kapal kargo Israel, MV Helios Ray, ditabrak di laut. Serangan lantas datang telah berlipat ganda, sering kali melibatkan ranjau yang dipasang di atas air. Perbuatan itu hanya melumpuhkan bukan menenggelamkan kapal.

Kapal Iran Shahr-e-Kord tertabrak di dekat Suriah, diikuti oleh kapal kontainer Israel Lori di Laut Arab, dan kapal kargo Iran Saviz di Laut Merah.

Masih abu-abu

 "Sejauh ini, konflik di laut antara Iran dan Israel tetap pada tingkat zona abu-abu berintensitas rendah, di bawah ambang batas tentang permusuhan yang dinyatakan," tulis peneliti Farzin Nadimi dari Institut Washington untuk Kebijakan Timur Dekat. Dia mengatakan tampaknya kedua belah pihak berusaha untuk menghindari eskalasi yang mungkin mengganggu jalur pelayaran dan ekonomi masing-masing.

Namun, dia menambahkan, "Kedua negara memiliki kemampuan dan pengalaman perang angkatan laut khusus yang substansial." Ia memperingatkan bahwa serangan dapat semakin cepat dan meluas dengan menggunakan cara baru seperti kapal selam, drone jarak jauh, dan kapal serang cepat.

Menahem Merhavy, seorang spesialis Iran di Universitas Ibrani Yerusalem, setuju bahwa tidak ada pihak yang menginginkan eskalasi. Tapi, dia memperingatkan, "Banyak hal bisa lepas kendali. Baik Israel maupun Iran menyadari kemungkinan itu dan mereka berusaha menghindarinya."

Dia mengatakan tangan Iran dilemahkan oleh sanksi dan pandemi covid-19, tetapi juga oleh keinginan untuk datang sebersih mungkin ke meja dari upaya diplomatik baru atas kegiatan nuklirnya. "Di pihak Israel," katanya, "Risiko terbesar sebenarnya ialah hubungannya dengan AS."

Dengan perang bayangan di laut lepas dan operasi seperti dugaan serangan Natanz, katanya, "Kami bermain api di sini." (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT