11 April 2021, 07:58 WIB

Puluhan Orang Tewas dalam Tindakan Keras Militer Myanmar


Nur Aivanni | Internasional

AKTIVIS Myanmar mengatakan lebih dari 80 orang telah dibunuh oleh pasukan keamanan Myanmar dalam tindakan keras terhadap aksi protes di kota Bago.

Militer dilaporkan telah mengambil mayat orang-orang yang terbunuh tersebut, dan jumlah kematian sebenarnya mungkin tidak pernah dapat ditentukan secara akurat.

Saksi mata mengatakan kepada media lokal bahwa tentara telah menggunakan senjata berat dan menembak apa pun yang bergerak.

Lebih dari 600 orang telah tewas sejak kudeta militer yang terjadi pada bulan lalu. Militer telah meningkatkan penggunaan kekerasan untuk mempertahankan cengkeramannya pada kekuasaan.

Pembunuhan terakhir terjadi di Bago, dekat kota utama Yangon, pada Jumat, tetapi itu membutuhkan waktu seharian untuk muncul karena banyak penduduk terpaksa mengungsi ke desa-desa terdekat.

Kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) mengatakan jumlah kematian sebenarnya kemungkinan besar jauh lebih tinggi.

Myanmar Now mengutip penyelenggara aksi protes Ye Htut yang mengatakan, "Ini seperti genosida. Mereka menembaki setiap bayangan".

Baca juga: Pejabat Anti-Kudeta Myanmar Desak PBB Beri Sanksi Junta Militer

Protes massal telah terjadi di seluruh Myanmar sejak militer menguasai negara di Asia Tenggara itu pada 1 Februari dan mengumumkan keadaan darurat selama setahun.

Angkatan bersenjata mengklaim telah terjadi kecurangan yang meluas selama pemilihan umum akhir tahun lalu yang telah mengembalikan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi dan partainya Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) ke tampuk kekuasaan. Komisi pemilihan pun telah menolak hal tersebut.

Pada Jumat, anggota parlemen yang digulingkan dan duta besar Myanmar untuk PBB meminta anggota Dewan Keamanan PBB untuk mengambil tindakan terhadap militer, termasuk memperluas sanksi dan memberlakukan embargo senjata dan zona larangan terbang.(BBC/OL-5)

BERITA TERKAIT