09 April 2021, 14:50 WIB

Tiongkok Lakukan Aktivitas Pengeboran di Laut China Selatan


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

TIONGKOK dilaporkan telah mengebor di kedalaman Laut China Selatan untuk mengambil inti sedimen dari dasar laut.

Ilmuwan Tiongkok di kapal penelitian kelautan menggunakan sistem pengeboran Sea Bull II buatan Tiongkok untuk mendapatkan inti sedimen sepanjang 231 meter di kedalaman 2.060 meter, menurut kantor berita resmi Xinhua, Kamis (8/4).

“Sistem tersebut dapat membantu mengeksplorasi sumber daya hidrat gas alam di dasar laut,” tambah Xinhua, mengacu pada kristal seperti es padat yang terbentuk dari campuran metana dan air yang disebut-sebut sebagai sumber energi yang menjanjikan.

Tidak jelas di mana persisnya pengeboran itu dilakukan di Laut China Selatan yang sekitar 90 persen di antaranya diklaim oleh Beijing sebagai perairan teritorialnya. Pengadilan Arbitrase Internasional di Den Haag telah menyatakan klaim tersebut tak memiliki dasar hukum.

Malaysia, Filipina, Taiwan, Vietnam serta Brunei juga mengklaim bagian-bagian laut yang memiliki potensi minyak dan gas yang sangat besar.

Ketegangan di wilayah tersebut telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir menyusul terungkapnya 200 kapal milisi maritim Tiongkok yang berkumpul di Whitsun Reef, sekitar 320 kilometer barat Pulau Palawan dan di dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE) Filipina.

Sejak itu, AS telah mengerahkan kelompok penyerang Angkatan Laut yang dipimpin oleh USS Theodore Roosevelt, yang memasuki Laut China Selatan pada hari Minggu.

Menurut laporan surat kabar South China Morning Post pada Jumat (9/4), AS juga telah mengerahkan kapal serbu amfibi USS Makin Island untuk memasuki jalur laut yang sibuk melalui Selat Malaka.

Kelompok itu juga dilaporkan termasuk dermaga transportasi amfibi USS San Diego, mrnutuy publikasi tersebut, mengutip informasi dari Inisiatif Pelacakan Situasi Strategis Laut China Selatan yang berbasis di Beijing.

Baca juga: Inggris Tak Lagi Akui Duta Besar Myanmar di London

AS telah mempertahankan aktivitas angkatan laut terbarunya dengan menyebutnya transit rutin dan sesuai dengan prinsip kebebasan navigasi.

Pada Jumat juga dilaporkan bahwa kapal-kapal militer Tiongkok melakukan pengejaran terhadap sebuah kapal Filipina dengan warga sipil dan jurnalis di ZEE Filipina pada Kamis (8/4), menurut stasiun televisi yang berbasis di Manila, ABS-CBN.

Filipina, sekutu AS yang telah mengembangkan hubungan lebih dekat dengan Beijing sejak pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte, telah menyuarakan keprihatinan tentang kehadiran kapal Tiongkok di ZEE-nya dalam beberapa hari terakhir.

Pada Kamis, departemen pertahanan Filipina mengatakan akan tetap membuka semua opsi karena perselisihan diplomatik Manila dengan Beijing terus tumbuh.

"Ketika situasi (di Laut China Selatan) berkembang, kami tetap membuka semua opsi kami dalam mengelola situasi, termasuk memanfaatkan kemitraan kami dengan negara lain seperti Amerika Serikat," kata juru bicara departemen pertahanan Filipina Arsenio Andolong, Kamis.

Departemen Luar Negeri juga berjanji untuk mengajukan protes diplomatik setiap hari sampai kapal Tiongkok meninggalkan Whitsun Reef.

Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri, yang diklaim Tiongkok sebagai wilayahnya, juga mengancam akan menembak jatuh pesawat tak berawak Tiongkok yang terlihat mengelilingi Kepulauan Pratas yang dikuasai Taipei di Laut China Selatan.

Dalam beberapa hari terakhir, ketegangan di Selat Taiwan juga meningkat, dengan pulau demokrasi itu melaporkan pada hari Rabu bahwa lebih dari 15 pesawat Tiongkok menyeberang ke zona pertahanan udara Taiwan.

Taipei memperingatkan bahwa mereka akan mempertahankan dirinya sampai saat terakhir jika perlu.

Pada Senin kapal induk Tiongkok, Liaoning, juga memimpin latihan angkatan laut di dekat Taiwan dan Beijing mengatakan bahwa latihan semacam itu akan menjadi rutinitas.

Aktivitas eksplorasi minyak dan gas Tiongkok di Laut China Selatan telah memicu ketegangan sebelumnya, terutama ketika China National Offshore Oil Corp (CNOOC) yang dikelola negara mengerahkan rig pengeboran laut dalam di perairan yang diklaim Vietnam pada tahun 2014.

Sepertiga dari perdagangan dunia yang diperkirakan bernilai lebih dari US$3 triliun melewati Laut China Selatan setiap tahun. (Aljazeera/OL-4)

BERITA TERKAIT