09 April 2021, 10:03 WIB

Turki dan Uni Eropa Saling Tuding dalam Insiden Sofagate


Basuki Eka Purnama | Internasional

TURKI dan Uni Eropa, Kamis (8/4), saling menyalahkan setelah Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen tidak mendapatkan tempat duduk kala bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Ankara.

Erdogan mendapat kritik tajam setelah gambar pertemuan antara dirinya dengan Von der Leten dan Presiden Dewan Eropa Charles Michel di Ankara, Selasa (6/4) menjadi viral.

Perdana Menteri Italia Mario Draghi bahkan menyebut insiden itu membuktikan bahwa Erdogan adalah seorang diktator. Pernyataan itu memancing tanggapan keras dari Turki.

Baca juga: PM Italia Sebut Erdogan Diktator, Turki Protes Keras

Ruang pertemuan antara ketiga pemimpin dunia itu hanya menyediakan dua kursi yang disusun di dekat bendera Uni Eropa dan Turki.

Erdogan dan Michel langsung menempati kedua kursi itu, sementara Von der Leyen--yang posisi diplomatisnya sejajar dengan kedua pemimpin itu--terpaksa berdiri.

"Ehm," kata Von der Leyen sembari mengangkat tangan ke arah Michel dan Erdogan.

"Pengaturan kursi itu sesuai dengan masukkan dari Uni Eropa. Titik," tegas pemerintah Turki dalam sebuah pernyataan resmi.

"Kami tidak akan mengungkapkan hal itu seandainya tidak ada tudingan bahwa insiden itu adalah kesalahan Turki," kilah Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu.

Namun, Dewan Eropa mengatakan tim protokol mereka tidak diizinkan meninjau ke ruang pertemuan sebelum pertemuan antara ketiga pemimpin itu.

"Jika ruangan untuk pertemuan tete-a-tete itu ditinjau terlebih dahulu, kami akan menyarankan kepada pihak tuan rumah untuk mengganti sofa dengan dua kursi bagi kedua pemimpin Uni Eropa," tegas tim protokol Dewan Eropa.

Insiden diplomatis itu dengan segera dijuluki sofagate dan menjadi pusat pembahasan pertemuan pertama antara Uni Eropa dan Turki dalam tempo satu tahun itu. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT