08 April 2021, 19:02 WIB

Militer Myanmar Tangkap Selebritas Anti-Kudeta, Paing Takhon 


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

SALAH satu selebritas populer di Myanmar, model dan aktor Paing Takhon yang mengkritik kudeta ditangkap oleh militer.

Paing Takhon ditahan pada Kamis (8/4) pukul 05.00 pagi dan merupakan yang terakhir dari ribuan orang yang ditahan sejak kudeta Februari 2021.

Pria berusia 24 tahun itu dibawa pergi setelah delapan truk yang membawa polisi dan tentara tiba di rumah ibunya di Yangon, menurut laporan media setempat. Kondisi kesehatannya sedang buruk pada saat itu.

Militer telah menerbitkan nama dan foto tokoh-tokoh populer dalam daftar pencarian harian di TV dan surat kabar milik pemerintah. Lebih dari 100 orang sedang dicari oleh militer, dan banyak yang bersembunyi.

Pada hari Rabu (7/4), beauty blogger Win Min Than dilaporkan dibawa oleh pasukan keamanan yang tiba di sebuah hotel tempat dia menginap bersama ibunya, menurut situs berita Irrawaddy.

Paing Takhon yang telah berpartisipasi dalam protes anti-kudeta, menghadapi dakwaan berdasarkan Pasal 505a KUHP yang mengkriminalisasi komentar yang menyebabkan ketakutan atau menyebarkan berita palsu dan dapat mengakibatkan hukuman penjara hingga tiga tahun. Profil media sosialnya telah dihapus, meskipun tidak jelas siapa yang menghapusnya.

Menurut kelompok advokasi, Asosiasi Bantuan Tahanan Politik di Myanmar, sebanyak 2.750 orang mulai dari politisi, dokter, aktor, hingga influencer telah ditahan. Sebagian besar ditahan di lokasi yang tidak diketahui.

Pada Kamis 8/4), Jose Ramos Horta, pemenang hadiah Nobel perdamaian dan mantan presiden Timor Leste, mendesak dewan keamanan PBB untuk mengabaikan Tiongkok dan Rusia serta membuat pernyataan tegas tentang kudeta militer yang termasuk embargo senjata dan sanksi, bahkan jika itu diveto.

Ramos Horta mengatakan lebih baik bagi Tiongkok dan Rusia untuk diekspos daripada dewan memiliki dukungan bulat atas siaran pers yang kosong dan tidak berguna.

Tokoh hak asasi manusia terkemuka membuat komentar selama konferensi ratusan kelompok masyarakat sipil Asia Tenggara untuk memutuskan tanggapan regional terhadap krisis.

Ketua Komunitas Kebijakan Luar Negeri Indonesia Dino Patti Djalal dan salah satu penyelenggara pertemuan tersebut menolak klaim bahwa kelompok non pemerintah dan masyarakat sipil di Asia Tenggara memiliki sedikit kekuatan untuk mengambil tindakan.

“Kami memiliki suara, kami adalah suara hati nurani rakyat, di wilayah ini. Itu hal yang sangat kuat. Mari kita mulai dengan itu,” tuturnya.

Pada Kamis (8/4), pengunjuk rasa memulai mogok sepatu berbaris, menempatkan bunga dengan sepasang sepatu di lokasi protes, atau di rumah mereka. Penyelenggara mengatakan protes simbolis akan menghormati lebih dari 580 orang yang dibunuh oleh militer, dengan menulis, "untuk setiap langkah, sekuntum bunga mekar.”

Para pengunjuk rasa, yang menghadapi kekerasan brutal oleh pasukan keamanan, telah menemukan cara baru untuk menunjukkan pembangkangan mereka kepada junta.

Pada Senin (5/4), telur Paskah dihiasi dengan slogan anti-kudeta sebagai bagian dari serangan telur Paskah, sementara pada hari Selasa, jalan-jalan di Yangon disiram dengan cat merah untuk menyoroti pembunuhan pengunjuk rasa damai.

Para pengunjuk rasa juga menggunakan media sosial secara kreatif, menggunakannya untuk berbagi rekaman pelanggaran oleh militer, serta karya seni dan meme anti-kudeta.

Banyak yang bergabung dalam solidaritas dengan gerakan pro-demokrasi lainnya di kawasan ini, mengadopsi tagar #MilkTeaAlliance, yang pertama kali digunakan oleh anak muda di Thailand, Taiwan, dan Hong Kong untuk menyuarakan oposisi terhadap otoriterisme. (Aiw/The Guardian/OL-09)

BERITA TERKAIT