08 April 2021, 10:12 WIB

Jenazah Kembali Ditemukan di Gerbong Terakhir Kereta Taiwan


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

TIM penyelamat menemukan lebih banyak jenazah penumpang saat gerbong terakhir kereta yang tergelincir di pantai timur Taiwan ditarik keluar dari terowongan di lokasi kecelakaan.

Penemuan jenazah penumpang, Selasa (6/4) malam oleh pekerja yang mengangkat gerbong kedelapan dari 408 Taroko Express, membuat jaksa percaya bahwa jumlah korban tewas bisa berubah.

“DNA dari jenazah penumpang telah dikirim ke Taipei untuk identifikasi lebih lanjut,” kata kepala jaksa penuntut Hualien, Yu Hsiu-duan.

Baca juga: Tak Dukung Kudeta Militer, Dubes Myanmar untuk Inggris Diusir

Administrasi Kereta Api Taiwan (TRA), Rabu (7/4), mengatakan mereka meminta kompensasi sebesar NT$840 juta atau sekitar Rp428 miliar dari tersangka utama, Lee Yi-hsiang, yang truknya menyebabkan kecelakaan kereta hingga menewaskan sedikitnya 50 orang dan melukai 218 orang di dekat Stasiun Taroko Gorge di Hualien.

Pada 4 April, TRA juga menyita NT$376 juta dari aset Lee, yang diberikan oleh Pengadilan Distrik Hualien pada Selasa.

Lee, 49, ditunjuk pada 2019 untuk mengelola proyek konstruksi guna mencegah batu jatuh ke rel kereta di dekat lokasi kecelakaan. Proyek itu, awalnya, dijadwalkan selesai pada Januari, tetapi tanggal penyelesaian ditunda karena masalah keamanan TRA.

Pihak berwenang telah meminta para pekerja untuk mengurangi jam kerja mereka dan beroperasi hanya pada larut malam agar tidak mempengaruhi kereta yang lewat, yang beroperasi hingga tengah malam.

Lee adalah pemilik Perusahaan Konstruksi Yi-Hsiang dan Konstruksi Yi-Cheng. Menurut catatan pemerintah, perusahaan Lee mengajukan penawaran dan mengamankan hingga 19 proyek konstruksi pemerintah dalam lima tahun terakhir, senilai total hampir NT$200 juta.

Dalam pertemuan mingguan Partai Progresif Demokratik, Rabu (7/4), Presiden Tsai Ing-wen memimpin anggota partai untuk mengheningkan cipta selama satu menit bagi para korban kecelakaan sebelum mengumumkan perlunya mereformasi TRA.

"Kecelakaan Taroko Express telah memukul Taiwan dengan keras. Kami sangat sedih atas korban tewas dan cedera," kata Tsai, yang secara khusus menggarisbawahi kematian operator kereta muda tersebut.

"Karena itu, TRA harus melalui reformasi,” imbuhnya.

TRA adalah operator perkeretaapian yang berafiliasi dengan pemerintah yang melapor ke Kementerian Perhubungan dan Komunikasi. Mereka bertanggung jawab atas kereta penumpang dan barang di Taiwan, kecuali kereta kecepatan tinggi, yang dikelola perusahaan swasta.

Selain tuntutan dari para penyintas kecelakaan Taroko dan keluarga korban agar pemerintah membuat kereta api lebih aman, partai oposisi utama Kuomintang (KMT) mengecam pemerintahan Tsai karena dianggap lalai dalam memeriksa kontraktor yang menawar proyek konstruksi.

Pada Rabu (7/4), di legislatif, anggota parlemen KMT meminta Perdana Menteri Su Tseng-chang, Menteri Perhubungan Lin Chia-lung, dan Wakil Menteri Perhubungan Chi Wen-jong mengundurkan diri.

Warga Taiwan telah menggunakan media sosial untuk menyuarakan kekecewaan mereka terhadap TRA, membanjiri halaman Facebook lembaga itu dengan saran untuk reformasi dan kritik keras. Pertama dan terpenting, pemerintahan Tsai sekarang akan bertujuan untuk menyelesaikan masalah sistemik di dalam TRA.

Misalnya, operator kereta sekarang mengandalkan komunikasi horizontal antardepartemen, tetapi di masa depan, setiap departemen akan melaporkan dan menangani masalah di dalamnya sendiri secara top-down untuk meningkatkan efisiensi.

"Yang terpenting, banyak orang telah menunjukkan (kebutuhan untuk mengubah) gagasan TRA dan standar manajemen keselamatan konstruksi," lanjut Tsai.

Tujuan selanjutnya adalah untuk melunasi utang jangka panjang yang telah ditumpuk TRA.

Pada Juli 2020, TRA memiliki utang NT$403 miliar, meningkat 2% dari NT$391,5 miliar yang terutang pada 2017.

Selain rute yang lebih terpencil yang tidak menghasilkan pendapatan, utang TRA terus membengkak karena penurunan jumlah penumpang yang stabil selama bertahun-tahun, karena warga Taiwan yang bepergian di antara kota-kota pantai barat kini bergantung pada kereta berkecepatan tinggi yang jauh lebih maju. Meskipun harga tiketnya lebih tinggi, kereta tersebut tetap terawat dengan baik dan selalu tepat waktu.

Menyusul kecelakaan kereta yang tergelincir pada 2018 yang menewaskan 18 orang dan melukai 187 lainnya, TRA berjanji melakukan reformasi. Tetapi, kecelakaan Taroko, yang terjadi hanya dua tahun kemudian, telah menyebabkan banyak orang Taiwan meragukan janji tersebut. (Straitstimes/OL-1)

BERITA TERKAIT