07 April 2021, 21:08 WIB

Keturunan Yahudi Sudan Berharap Dapat Terhubung dengan Israel


Mediaindonesia.com | Internasional

DI sudut lingkungan pusat Khartoum yang telantar, batu nisan berhuruf Ibrani menonjol dari sebidang puing-puing. Ini bukti sisa-sisa komunitas Yahudi pernah tinggal di Sudan.

Permakaman itu berdiri selama bertahun-tahun sebagai pengingat yang sering diabaikan dalam sejarah Sudan. Lokasinya di antara jalan-jalan retak yang dipenuhi sampah dan dibatasi oleh toko-toko ban.

"Yang kami miliki dari komunitas Yahudi Sudan yaitu kuburan yang rusak ini, beberapa foto, dan kenangan lama," kata apoteker Mansour Israil kepada AFP.

Cucu seorang Yahudi Irak yang menetap di Sudan, Israil, masih tinggal di lingkungan yang dulu dikenal sebagai kawasan Yahudi di Omdurman, ibu kota di seberang sungai Nil. Keluarganya kemudian masuk Islam.

Komunitas Yahudi di Sudan menjadi salah satu yang terkecil di Timur Tengah dan menyusut pada paruh kedua abad ke-20. Ini karena ketegangan seputar pembentukan Israel pada 1948 memengaruhi wilayah tersebut.

Di Sudan, seperti di tempat lain di dunia Arab, orang Yahudi lokal menanggung beban sentimen anti-Israel yang meningkat. "Hati banyak orang di Sudan berubah," kata Israil, 75, yang menyaksikan lingkungannya yang hidup dan beragam berubah. Teman-teman Yahudinya meninggalkan Sudan.

 
Sekarang, beberapa dekade kemudian, Israil dan keturunan Yahudi Sudan lain melihat pemulihan hubungan baru-baru ini antara negara mereka dan Israel sebagai kesempatan untuk terhubung dengan asal mereka. Tahun lalu, Sudan, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko setuju untuk menormalisasi hubungan dengan negara Yahudi di bawah Abraham Accords yang ditengahi AS.

Itu menjadi kebijakan berbalik arah setelah Perang Enam Hari 1967 antara negara-negara Arab dan Israel yang membuat negara Yahudi itu menempati sebagian besar wilayah. Para pemimpin Arab berkumpul di Khartoum setelah kekalahan itu dan mengumumkan resolusi yang kemudian dikenal sebagai Tiga Tidak yaitu tidak ada perdamaian, tidak ada pengakuan, dan tidak ada negosiasi dengan Israel.

Saat itu, kata Israil, dia mendapat panggilan telepon yang mengancam karena nama keluarga saya. "Bayangkan bagaimana itu untuk orang Yahudi." (OL-14)

BERITA TERKAIT