07 April 2021, 06:24 WIB

Amnesty International Kecam Monopoli Vaksin oleh Negara Kaya


Basuki Eka Purnama | Internasional

NEGARA-NEGARA kaya di dunia gagal dalam tes solidaritas global dengan menimbun vaksin covid-19. Hal itu diungkapkan Amnesty International sembari menuding Tiongkok dan negara lainnya mengeksploitasi pandemi untuk melanggar hak asasi manusia (HAM).

Dalam laporan tahunan mereka, Amnesty International menyebut krisis kesehatan dunia itu mengungkapkan kegagalan dunia untuk bekerja sama.

"Pandemi dengan jelas menunjukkan ketidakmampuan dunia untuk bekerja sama secara efektif dan sejajar," kata Agnes Callamard, yang ditunjuk menjadi sekretaris jenderal Amnesty International, bulan lalu.

Baca juga: California Berencana Cabut Pembatasan Covid-19 pada 15 Juni

"Negara-negara kaya hampir memonopoli pasokan vaksin dan membiarkan negara-negara lain, yang memiliki sumber daya terbats, menghadapi krisis kesehatan dan kemanusiaan yang parah," lanjutnya.

Karenanya, Callamard mendesak dipercepatnya kampanye vaksinasi global dam menjadikan hal itu sebagai bukti kemampuan dunia bekerja sama.

Sejak covid-19 muncul di Tiongkok pada akhir 2019, pandemi telah menewaskan lebih dari 2,8 juta jiwa dan menginfeksi sedikitnya 130 juta orang di dunia.

Meski begitu, upaya vaksinasi untuk mengatasi pandemi berjalan secara tidak adil.

Menurut data AFP, lebih dari separuh dari 680 juta dosis vaksin covid-19 yang telah disuntikkan di dunia dilakukan di negara kaya, seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Israel. Adapun negara-negara miskin hanya mampu menyuntikkan vaksin covid-19 sebanyak 0,1% dari dosis yang ada.

Akhir Maret lalu, WHO telah memperingatkan mengenai semakin tidak adilnya distribusi vaksin covid-19. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT