01 April 2021, 14:58 WIB

Kenya Ancam Tutup Dua Kamp Pengungsi Terbesar


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

KENYA kembali mengancam akan menutup dua kamp pengungsi terbesar di negara itu. Sebuah cuitan dari Kementerian Dalam Negeri memberikan ultimatum selama 14 hari kepada Badan Pengungsi PBB (UNHCR).

UNHCR diminta memikirkan tindakan terhadap rencana penutupan kamp pengungsi di Dadaab dan Kakuma. Kementerian menyebut tidak ada ruang untuk negosiasi lebih lanjut. Bahkan, ketika UNHCR bermaksud untuk membuka dialog dengan otoritas lokal sebelum batas waktu 6 April.

Pada 28 Februa, Kenya tercatat menampung 512.494 pengungsi dan pencari suaka. Diketahui, ada 224.462 pengungsi di Dadaab dan 163.299 pengungsi di Kakuma. Dari jumlah tersebut, 274.299 pengungsi berasal dari Somalia.

Baca juga: Pangkalan Militer AS Tampung Anak Imigran

Pemerintah tidak memberikan alasan di balik perintah penutupan tersebut. Namun, kalangan pengamat dengan cepat menunjukkan pertikaian yang mendalam antara Kenya dengan tetangganya, Somalia, memutuskan hubungan diplomatik.

Kedua negara terlibat dalam batasan maritim di Samudra Hindia, yang menyebabkan Somalia merujuk Kenya ke pengadilan internasional. Kamp Dadaab terletak di daerah Garissa, yang berbatasan dengan Somalia. 

"UNHCR telah diberitahu oleh pihak berwenang Kenya tentang niat mereka untuk menutup kamp pengungsi Dadaab dan Kakuma dalam jangka waktu dekat," bunyi pernyataan UNHCR.

Baca juga: Perang AS di belahan Dunia Sebabkan 37 Juta Pengungsi

Di lain sisi, UNHCR berterima kasih kepada Kenya, karena dengan murah hati menampung pengungsi dan pencari suaka dalam beberapa dekade terakhir. Namun, mereka menentang penutupan kamp pengungsi. Meningat, adanya penutupan sebagian wilayah akibat pandemi covid-19.

“UNHCR prihatin tentang dampak keputusan ini terhadap perlindungan pengungsi di Kenya. Termasuk, dalam konteks pandemi covid-19. Kami mendesak pemerintah Kenya untuk memastikan bahwa setiap keputusan sudah disertai solusi yang tepat dan berkelanjutan. Mereka (pengungsi) membutuhkan perlindungan,” lanjut UNHCR.

Sehari setelah pengumuman tersebut, pejabat pemerintah daerah mengadakan pertemuan darurat tentang rencana penutupan kamp pengungsi dengan sejumlah mitra. Termasuk, Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, berikut 25 kepala misi luar negeri di Nairobi. Namun, rincian pertemuan tidak dipublikasikan.(Guardian/OL-11)

 

BERITA TERKAIT