22 March 2021, 12:55 WIB

Proyek Bendungan Myanmar Dihentikan akibat Kudeta


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

KONSORSIUM internasional Electricite de France, sebuah utilitas Prancis, menangguhkan proyek bendungan pembangkit listrik tenaga air senilai US$1,5 miliar di Myanmar sebagai respon atas kudeta militer bulan lalu.

Hampir 250 orang dipastikan tewas dalam protes sejak kudeta militer pada 1 Februari. Kecaman internasional dari Washington, Brussels dan PBB sejauh ini gagal menghentikan pertumpahan darah.

"Proyek itu ditangguhkan," kata seorang juru bicara EDF tentang proyek bendungan tersebut, Minggu (21/3).

Proyek Shweli 3 671 megawatt, masih dalam tahap perencanaan awal, dijalankan oleh konsorsium EDF yang mayoritas dimiliki oleh negara Prancis, konglomerat Marubeni Jepang dan perusahaan lokal Ayeyar Hinthar.

Baca juga: 1000 Lebih Penduduk Myanmar Mengungsi ke India

LSM menyambut baik keputusan tersebut, dengan Justice for Myanmar menyebut negara bagian Shan, tempat Shweli-3 berada, sebagai sebuah wilayah dengan konflik yang sedang berlangsung dan pelanggaran hak asasi manusia berat yang sistemik.

Dalam sebuah surat kepada Justice for Myanmar dan diterbitkan di situs LSM, EDF mengatakan, penghormatan terhadap hak asasi manusia adalah syarat untuk menjalankan semua proyeknya.

Beberapa LSM juga telah mendorong raksasa energi Prancis Total untuk menarik diri dari Myanmar, dengan Greenpeace menuduh perusahaan tersebut sebagai salah satu kontributor keuangan utama rezim militer.

Tak lama setelah kudeta, Total mengatakan sedang menilai situasi terkait aktivitasnya di negara itu.(Straitstimes/OL-5)

BERITA TERKAIT