20 March 2021, 16:30 WIB

Korban Meninggal Akibat Covid-19 di Dunia Hampir 2,7 Juta


Nur Aivanni | Internasional

COVID-19 tercatat telah menewaskan sedikitnya 2.692.313 orang sejak wabah muncul di Tiongkok pada Desember 2019, menurut penghitungan dari sumber resmi yang dikumpulkan oleh AFP, Jumat (19/3)

Sedikitnya 121.747.630 kasus virus korona telah tercatat. Sebagian besar telah pulih, meskipun beberapa terus mengalami gejala berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan kemudian.

Angka-angka ini didasarkan pada jumlah korban harian yang diberikan oleh otoritas kesehatan di setiap negara dan tidak termasuk evaluasi ulang oleh organisasi statistik, seperti yang terjadi di Rusia, Spanyol dan Inggris.

 

Pada Kamis (18/3), ada 10.352 kematian baru dan 542.248 kasus baru tercatat di seluruh dunia.

 

Berdasarkan laporan terbaru, negara dengan kematian baru terbanyak adalah Brasil dengan 2.724 kematian baru, diikuti oleh Amerika Serikat dengan 1.376 dan Meksiko dengan 698.

 

Amerika Serikat tetap menjadi negara yang paling parah terkena dampak dengan 539.699 kematian dari 29.667.759 kasus.

 

Setelah AS, negara yang paling terpukul adalah Brasil dengan 287.499 kematian dari 11.780.820 kasus, Meksiko dengan 196.606 kematian dari 2.182.188 kasus, India dengan 159.370 kematian dari 11.514.331 kasus, dan Inggris dengan 125.926 kematian dari 4.280.882 kasus.

 

Negara dengan jumlah kematian tertinggi dibandingkan dengan jumlah penduduknya adalah Republik Ceko dengan 227 kematian per 100.000 penduduk, diikuti oleh Belgia dengan 195, Slovenia 190, Montenegro 188 dan Inggris 185.

 

Eropa secara keseluruhan memiliki 911.769 kematian dari 40.825.963 kasus, Amerika Latin dan Karibia 733.681 kematian dari 23.260.255 infeksi, dan Amerika Serikat dan Kanada 562.279 kematian dari 30.589.363 kasus.

 

Asia telah melaporkan 265.018 kematian dari 16.870.208 kasus, Timur Tengah 109.631 kematian dari 6.090.040 kasus, Afrika 108.967 kematian dari 4.077.976 kasus, dan Oceania 968 kematian dari 33.830 kasus.

Akibat koreksi oleh otoritas nasional atau keterlambatan publikasi data, angka yang diperbarui selama 24 jam terakhir mungkin tidak sama persis dengan penghitungan hari sebelumnya. (NST/OL-8)

 

BERITA TERKAIT