24 February 2021, 11:08 WIB

Iran Mulai Batasi Inspeksi Tim PBB sampai AS Cabut Sanksi


mediaindonesia.com | Internasional

IRAN, Selasa (23/2), mengatakan pihaknya telah mulai membatasi beberapa inspeksi lokasi oleh tim pengawas nuklir PBB. Itu dilakukan sebagai tanggapan atas penolakan AS sejauh ini untuk mencabut sanksi yang dijatuhkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump.

Langkah tersebut mendorong Inggris, Prancis dan Jerman, tiga negara Eropa yang terlibat dalam kesepakatan nuklir 2015, untuk mengatakan bahwa mereka sangat menyesali keputusan tersebut, dan bahwa mereka bersatu dalam menggarisbawahi sifat berbahaya dari keputusan tersebut.

Pada Selasa (23/2), Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi mengatakan dalam sebuah seminar bahwa kesepakatan selama tiga bulan yang disepakati dalam pembicaraan pada Minggu (21/2) di Teheran jauh dari situasi yang ideal.

Namun, tambahnya, itu memungkinkan pihaknya untuk terus memantau dan mencatat semua aktivitas utama.

"Ini akan memfasilitasi....waktu untuk diplomasi yang sangat diperlukan yang akan dikerahkan dalam beberapa hari mendatang," katanya, yang mengacu pada pembicaraan antara Teheran dan negara-negara besar yang bertujuan memulihkan kesepakatan 2015 yang dikenal sebagai JCPOA.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan kepada kantor berita resmi IRNA bahwa perubahan yang terjadi pada Selasa (23/2) tidak akan berdampak langsung yang besar pada pekerjaan pengawas IAEA.

"Inti dari kesepakatan ini adalah bahwa data yang direkam mengenai program nuklir kami akan disimpan dan tidak diserahkan kepada IAEA," kata diplomat tinggi Iran tersebut. Data tersebut tidak pernah dipasok ke IAEA secara real time, katanya, tetapi diserahkan secara harian atau mingguan.

Jika pembicaraan tentang kembalinya AS ke kesepakatan nuklir berlarut-larut, itu akan berubah.

Organisasi Energi Atom Iran telah mengatakan bahwa berdasarkan undang-undang baru, jika masih tidak ada pencabutan sanksi AS setelah tiga bulan, rekaman data mengenai program nuklir tersebut akan mulai dihapus.

Presiden AS Joe Biden telah mengisyaratkan kesiapan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir, tetapi menegaskan Iran pertama-tama kembali ke semua komitmen nuklirnya. (AFP/Nur/OL-09)

BERITA TERKAIT