22 February 2021, 14:24 WIB

Junta Militer Myanmar Ancam Pengunjuk Rasa


Nur Aivanni | Internasional

JUNTA militer Myanmar memperingatkan pengunjuk rasa anti-kudeta bahwa mereka bisa mati, tetapi ribuan orang turun ke jalan lagi pada Senin (22/2), dengan ketegangan yang melonjak atas kematian empat demonstran.

Sebagian besar warga Myanmar gempar karena para jenderal menggulingkan dan menahan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi tiga pekan lalu. Demonstrasi besar-besaran telah terjadi di seluruh negeri, sementara gerakan pembangkangan sipil telah menghambat banyak operasi pemerintah dan juga bisnis.

"Para pengunjuk rasa sekarang menghasut orang-orang, terutama remaja dan pemuda yang emosional, ke jalur konfrontasi di mana mereka akan kehilangan nyawa," kata sebuah pernyataan di stasiun televisi pemerintah MRTV pada Minggu.

Pernyataan itu, yang dibacakan dalam bahasa Burma dengan teks versi Inggris di layar, memperingatkan pengunjuk rasa agar tidak memicu kerusuhan dan anarki.

Peringatan itu menyusul akhir pekan paling mematikan sejak kudeta - dua orang tewas ketika pasukan keamanan menembaki pengunjuk rasa di kota Mandalay, dan orang ketiga ditembak mati di Yangon. Dan seorang perempuan muda juga meninggal pada Jumat setelah ditembak di kepala saat melakukan aksi protes.

Pelapor Khusus PBB Tom Andrews mengatakan dia sangat prihatin dengan ancaman baru junta tersebut. "Peringatan bagi junta: Tidak seperti 1988, tindakan oleh pasukan keamanan dicatat & Anda akan dimintai pertanggungjawaban," cuitnya di Twitter.

Baca juga : Tiga Orang Tewas, PBB Kembali Kecam Rezim Militer Myanmar

Tetapi pengunjuk rasa tampaknya tidak terpengaruh pada Senin (22/2), dengan ribuan orang berkumpul di dua tempat sekitar Yangon.

"Kami keluar hari ini untuk bergabung dalam aksi protes, untuk berjuang sampai kami menang," kata Kyaw Kyaw, seorang mahasiswa yang berusia 23 tahun. "Kami khawatir tentang tindakan keras itu, tetapi kami akan terus maju. Kami sangat marah," ucapnya.

Di wilayah Bahan, para demonstran duduk di jalan dan membuat lautan spanduk kuning dan merah untuk mendukung Suu Kyi.

Sementara itu, penduduk Yangon terbangun dengan kehadiran keamanan yang ketat, termasuk truk polisi dan militer di jalan dan sebuah distrik kedutaan yang dibarikade.

Pasar dan toko diperkirakan akan tetap tutup sebagai bentuk solidaritas dengan para pengunjuk rasa. Ada juga demonstrasi di kota Myitkyina dan Dawei. Dan, para pengunjuk rasa juga turun ke jalan di Naypidaw dengan sepeda motor. (AFP/OL-2)

 

BERITA TERKAIT