22 February 2021, 08:26 WIB

Tiga Orang Tewas, PBB Kembali Kecam Rezim Militer Myanmar


Nur Aivanni | Internasional

SERANGAN yang mematikan terhadap pengunjuk rasa antikudeta di Myanmar memicu kecaman baru PBB terhadap rezim militer baru di negara itu pada Minggu (21/2). Saat bersamaan, para pelayat mengadakan pemakaman bagi seorang perempuan muda yang telah menjadi simbol nasional perlawanan terhadap junta.

Pihak berwenang secara bertahap meningkatkan taktik mereka melawan gerakan pembangkangan sipil yang besar dan damai. Gerakan itu menuntut kembalinya pemimpin sipil yang digulingkan Aung San Suu Kyi.

Pada Senin (22/2) dini hari, Myanmar mengalami pemadaman internet pada malam kedelapan berturut-turut, menurut konfirmasi kelompok pemantau NetBlocks. Itu terjadi menjelang aksi protes besar yang direncanakan.

Sabtu menandai hari paling mematikan sejauh ini dalam lebih dari dua minggu demonstrasi nasional, setelah dua orang tewas ketika pasukan keamanan menembaki demonstrasi di Mandalay dan orang ketiga ditembak mati di Yangon. Para pengunjuk rasa di Yangon, Monywa, dan Myitkyina menggelar upacara doa pada Minggu untuk memberi penghormatan kepada mereka yang meninggal.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengutuk penggunaan kekerasan yang mematikan terhadap massa di Mandalay. "Penggunaan kekuatan yang mematikan, intimidasi, dan pelecehan terhadap demonstran damai tidak dapat diterima," tulis Guterres di Twitter.

Pada Minggu malam, Kementerian Luar Negeri Myanmar menuduh PBB dan negara-negara asing campur tangan dalam urusan internalnya. "Meskipun menghadapi demonstrasi yang tidak sah, penghasutan kerusuhan dan kekerasan, pihak berwenang terkait melakukan pengendalian sepenuhnya melalui penggunaan kekuatan minimum untuk mengatasi gangguan tersebut," katanya dalam pernyataan.

Sebelumnya, dua orang tewas di Mandalay. Dalam insiden terpisah pada Sabtu, seorang pria berusia 30 tahun tewas di Yangon saat berpatroli di lingkungan itu sebagai bagian dari inisiatif untuk berjaga-jaga terhadap penangkapan aktivis pada malam hari. Dia telah ditembak mati oleh polisi.

Sebagian besar Myanmar telah gempar sejak pasukan menahan Suu Kyi pada 1 Februari, dengan demonstrasi besar-besaran di kota-kota besar dan desa-desa terpencil di seluruh negeri. Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada pun menanggapi dengan sanksi yang menargetkan para jenderal tertinggi Myanmar.

Menteri Luar Negeri Uni Eropa akan bertemu pada Senin untuk membahas tindakan mereka sendiri terhadap rezim militer di Myanmar. Majelis Umum PBB dijadwalkan bersidang pada Jumat untuk melakukan pembicaraan informal tentang situasi muslim Rohingya di Myanmar, tetapi kudeta militer tersebut kemungkinan besar akan menjadi pusat perhatian. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT