11 February 2021, 11:47 WIB

Langgar Kesepakatan Nuklir, IAEA: Iran Produksi Logam Uranium


Nur Aivanni | Internasional

BADAN pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan para pengawas mengonfirmasi Iran telah memulai produksi logam uranium. Hal itu merupakan pelanggaran penting lainnya dari kesepakatan nuklir tahun 2015 dengan kekuatan dunia.

Menurut organisasi yang berbasis di Wina itu, Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi mengatakan kepada negara-negara anggota bahwa pengawasnya telah mengonfirmasi pada 8 Februari sejumlah kecil logam uranium 3,6 gram telah diproduksi di pabrik Isfahan Iran.

Logam uranium juga dapat digunakan untuk bom nuklir dan penelitian tentang produksinya secara khusus dilarang berdasarkan kesepakatan nuklir - yang disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA)- yang ditandatangani Teheran dengan Jerman, Prancis, Inggris, Tiongkok, Rusia dan Amerika Serikat pada tahun 2015.

Sebelumnya, menurut IAEA, Iran telah mengumumkan langkah tersebut dengan mengatakan rencananya untuk melakukan penelitian dan pengembangan pada produksi logam uranium sebagai tujuan yang dinyatakan untuk merancang jenis bahan bakar yang lebih baik.

Sejak penarikan sepihak Amerika dari kesepakatan pada tahun 2018, anggota lainnya telah bekerja untuk mencoba dan mempertahankan kesepakatan tersebut. Teheran melanggar kesepakatan tersebut untuk menekan penandatanganan lainnya untuk memberikan lebih banyak insentif kepada Iran guna  mengimbangi sanksi Amerika yang melumpuhkan yang diberlakukan kembali setelah AS menarik diri.

Baca juga: Biden: AS tidak Akan Cabut Sanksi Iran secara Sepihak

Tujuan akhir dari kesepakatan itu adalah untuk mencegah Iran mengembangkan bom nuklir. Iran sekarang memiliki cukup uranium yang diperkaya untuk membuat bom, tetapi tidak mendekati jumlah yang dimilikinya sebelum kesepakatan nuklir tersebut ditandatangani.

Langkah terbaru Teheran tersebut semakin memperumit upaya negara-negara anggota lainnya untuk membujuk AS agar kembali ke kesepakatan tersebut.

Ketika Iran mengumumkan rencananya pada Januari untuk memproduksi logam uranium, Kementerian Luar Negeri Jerman, Prancis dan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama yang mengatakan mereka sangat prihatin.

Produksi logam uranium, kata negara-negara itu, memiliki implikasi militer yang berpotensi besar. Iran juga baru-baru ini menolak tawaran Prancis untuk menengahi kesepakatan nuklir.(Daily Sabah/OL-5) 

BERITA TERKAIT