11 February 2021, 10:07 WIB

Puluhan Ribu Warga di Tigray Ethiopia Terancam Mati Kelaparan


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

PALANG Merah Ethiopia mengungkapkan 80% dari wilayah Tigray yang dilanda konflik terputus dari bantuan kemanusiaan dan puluhan ribu penduduk terancam mati kelaparan.

Penaksiran itu datang ketika pertempuran antara pasukan Ethiopia dan sekutu serta mereka yang sekarang menjadi buronan pemerintah Tigray mendominasi kehidupan politik selama hampir 30 tahun, memasuki bulan keempat.

"Delapan puluh persen dari Tigray tidak dapat dijangkau pada waktu khusus ini," kata Presiden Palang Merah Ethiopia Abera Tola dalam konferensi pers.

Dia menambahkan beberapa kematian akibat kelaparan telah dilaporkan dan angkanya bisa naik dengan cepat.

“Jumlahnya hari ini bisa satu, dua atau tiga, tapi tahukah Anda, setelah sebulan jumlahnya ribuan. Setelah dua bulan jadi puluhan ribu,” ujarnya.

Perdana Menteri Abiy Ahmed mengatakan kampanye militer di Tigray dilakukan guna menanggapi serangan yang diatur di kamp-kamp tentara federal oleh Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF), partai yang memerintah regional.

Baca juga: PM Ethiopia Nyatakan Operasi Tigray Berakhir

Pada akhir November, ia mengumumkan kemenangan setelah pasukan federal memasuki ibu kota Tigrayan, Mekelle.

Tetapi para pekerja kemanusiaan dan diplomat mengatakan ketidakamanan yang terus berlanjut telah menghambat respon bantuan.

Presiden Palang Merah Ethiopia Abera Tola mengatakan akses bantuan sebagian besar tetap terbatas pada jalan utama di utara dan selatan Mekelle, tidak termasuk sebagian besar daerah pedesaan. Dia menuturkan, warga sipil yang terlantar dan berhasil mencapai kamp-kamp di kota Tigrayan menjadi kurus kering.

“Anda lihat kulit mereka benar-benar ada di tulang mereka. Anda tidak melihat makanan apapun di tubuh mereka," ujarnya.

"Kadang-kadang juga sangat sulit untuk membantu mereka tanpa beberapa jenis makanan bernilai gizi tinggi,” imbuhnya.

Dia menyebut, hampir 3,8 juta orang di Tigray membutuhkan bantuan.

“Begitu pekerja kemanusiaan dapat mencapai daerah pedesaan Tigray, di sana kita akan melihat krisis yang lebih menghancurkan. Kita harus bersiap untuk yang terburuk,” ungkapnya.

Presiden Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) Francesco Rocca yang mengunjungi Tigray minggu ini, terkejut dengan apa yang dia temui.

“Situasi di sana adalah salah satu yang paling sulit yang pernah saya lihat. Orang-orang di sana kehilangan hampir semuanya,” kata Rocca menyuarakan kekhawatiran atas kekurangan makanan dan obat-obatan penyelamat hidup.

Rocca mengatakan hanya empat dari 40 rumah sakit yang beroperasi di wilayah tersebut dan semuanya menghadapi kekurangan besar dalam persediaan medis. Hal itu melumpuhkan kemampuan dokter untuk melakukan operasi apapun.

Dia juga mengecam penjarahan yang yang telah merusak sebagian besar fasilitas kesehatan di wilayah tersebut, termasuk hilangnya 140 ambulans IFRC.(Aljazeera/OL-5)

BERITA TERKAIT