02 February 2021, 13:34 WIB

Warga Peru Berbaris Siang dan Malam Demi Dapatkan Oksigen


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

RATUSAN warga Peru rela tidur di jalan hingga berhari-hari untuk mengantre oksigen di tengah gelombang kedua pandemi covid-19 yang mematikan. Mereka mengantre demi orang yang dicintai, yang tertular covid-19 dan tengah berjuang untuk bernafas di rumah.

Di malam yang dingin, mereka berlindung di tenda-tenda kecil, di bawah selimut atau lembaran karton di luar Criogas, pabrik oksigen kecil di kota pelabuhan El Callao, dekat ibu kota Lima.

Ratusan tabung oksigen setinggi manusia berjejer di jalan di luar pabrik. Setiap tabung bertuliskan nama orang yang membawanya.

“Kemarin saya antre panjang. Saya sudah di sini sejak jam 05.00 kemarin. Saya datang terlambat karena ketika datang, ada orang yang sudah dua atau tiga hari mengantre di sini,” kata Yamil Antonio Suca.

Pelajar berusia 25 tahun itu mengatakan kepada bahwa dia berharap tidak harus menghabiskan malam kedua dengan tidur di jalanan. Tetapi dia tidak yakin akan mencapai garis depan pada akhir hari.

Pulang dengan tangan kosong bukanlah pilihan. “Ayah saya mengidap covid-19, usianya 50 tahun, dia butuh oksigen,” kata Suca.

Sementara itu, setiap pagi staf pabrik yang dibantu oleh petugas polisi berkeliling, merevisi daftar tunggu, dan mengumumkan berapa silinder yang bisa diisi hari itu.

Pabrik belum menaikkan harganya, meskipun yang lain telah menaikkan harga mereka sebanyak 300%. Menteri Kesehatan Pilar Mazzetti mengecam praktik tersebut dan menyebutnya kriminal.

Gelombang kedua covid-19 telah membuat persediaan oksigen menipis di beberapa negara Amerika Selatan, dan banyak warga Peru mengatakan, orang yang mereka cintai meninggal karena mereka tidak dapat mengakses oksigen.

Di El Callao, orang-orang rela tidur di jalan selama berhari-hari, tanpa akses kamar mandi dan beberapa tanpa makanan, untuk mendapatkan barang berharga tersebut. Orang-orang yang mereka cintai dirawat di rumah, karena rumah sakit kekurangan tempat tidur.

Saat fajar menyingsing, pedagang asongan datang menawarkan sarapan roti sederhana dengan alpukat, atau hanya dengan kopi.

Miguel Angel, 22, yang datang dengan sepupunya untuk bergiliran mengantre mengatakan, dia berada di urutan nomor 124. "Kami memiliki anggota keluarga, 89 tahun, dengan kondisi yang buruk. Kami melakukan apa yang kami bisa untuknya," katanya.

Di sekitar pabrik, polisi ikut mengawasi pembeli yang menunggu, mencegah agar tidak ada yang menerobos antrean dan menggagalkan pedagang yang ingin memanfaatkan harga khusus yang disediakan untuk pelanggan perorangan.

Suasana hati di antara warga yang menunggu tampak suram karena mereka khawatir tentang kondisi anggota keluarga mereka yang sakit.

Senyuman cerah tergambar di wajah ketika nama mereka akhirnya dipanggil dan sebuah botol terisi, membawa harapan bagi satu pasien pada satu waktu.

Pabrik dapat mengisi 10 botol setiap 45 menit, sampai jam tutup pukul 17.00.

"Ibuku rapuh, dia berusia 69 tahun," kata Yulitza Torres, 46. "Jika kita tidak membawa oksigen, dia akan meninggal.”

Peru yang memiliki 33 juta penduduk kini telah mencatatkan lebih dari 1,1 juta kasus dan lebih dari 40.000 kematian akibat covid-19 sejak Maret tahun lalu. (Aiw/France24/OL-10)

BERITA TERKAIT