26 January 2021, 16:56 WIB

ILO: Dunia Kehilangan 255 Juta Lapangan Pekerjaan pada 2020


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa mengungkapkan bahwa pandemi covid-19 berdampak besar pada pekerjaan global, tahun lalu. Dalam sebuah studi baru, Organisasi Perburuhan Internasional PBB (ILO) menemukan bahwa 8,8% jam kerja global hilang pada 2020, dibandingkan dengan kuartal keempat 2019.

“Itu setara dengan 255 juta pekerjaan penuh waktu, atau kira-kira empat kali lebih besar dari jumlah yang hilang selama krisis keuangan global 2009," kata Kepala ILO Guy Ryder kepada wartawan, Selasa (26/1).

Baca juga: Perbatasan Selandia Baru Kemungkinan Ditutup Sepanjang Tahun 2021

"Ini merupakan krisis paling parah bagi dunia kerja sejak depresi hebat tahun 1930-an," imbuhnya.

Badan tenaga kerja PBB menjelaskan bahwa sekitar setengah dari jam kerja yang hilang dihitung dari pengurangan jam kerja bagi mereka yang masih bekerja. Tetapi dunia juga mengalami tingkat kehilangan pekerjaan yang belum pernah terjadi sebelumnya tahun lalu.

Pengangguran global melonjak 1,1% atau sebesar 33 juta, menjadi total 220 juta. Tahun lalu, tingkat pengangguran di seluruh dunia mencapai 6,5%.

Ryder menekankan bahwa 81 juta orang lainnya tidak mendaftar sebagai pengangguran tetapi keluar begitu saja dari pasar tenaga kerja.

"Entah mereka tidak dapat bekerja mungkin karena pembatasan pandemi atau kewajiban sosial atau mereka menyerah mencari pekerjaan," katanya.

"Jadi, bakat mereka, keterampilan mereka, energi mereka telah hilang, hilang dari keluarga mereka, hilang dari masyarakat kita, hilang dari kita semua,” imbuhnya.

ILO menuturkan, jam kerja yang hilang tahun lalu, menurunkan pendapatan kerja global sebesar 8,3%.

“Itu berarti penurunan sekitar US$3,7 triliun, atau 4,4 persen dari keseluruhan produk domestik bruto (PDB) global,” jelas ILO.

Munculnya beberapa vaksin yang aman dan efektif untuk melawan covid-19 telah meningkatkan harapan bahwa dunia dapat segera mengendalikan pandemi. Tetapi ILO memperingatkan bahwa prospek pemulihan pasar tenaga kerja global tahun ini lambat, tidak merata dan tidak pasti.

Organisasi tersebut menunjuk pada dampak yang tidak merata dari krisis terhadap pekerja dunia, mempengaruhi perempuan dan pekerja yang lebih muda jauh lebih dari yang lain.

Secara global, kehilangan pekerjaan untuk perempuan tahun lalu mencapai 5%, dibandingkan dengan laki-laki yang hanya mencapai 3,9%.

Perempuan lebih cenderung bekerja di sektor ekonomi yang terdampak lebih parah, dan juga mengambil lebih banyak beban, misalnya, merawat anak-anak yang terpaksa tinggal di rumah karena sekolah ditutup.

Pekerja yang lebih muda juga jauh lebih mungkin kehilangan pekerjaan, dengan kehilangan pekerjaan di antara usia 15-24 tahun sebesar 8,7 persen secara global, dibandingkan dengan 3,7% untuk pekerja yang lebih tua.

Menurut temuan ILO, banyak anak muda juga menunda mencoba memasuki pasar tenaga kerja mengingat kondisi yang rumit tahun lalu. Mereka memperingatkan bahwa benar-benar ada risiko yang nyata dari hilangnya generasi.

Laporan yang dirilis Senin (25/1) ini juga menyoroti dampak yang tidak merata di berbagai sektor, dengan akomodasi dan layanan makanan yang terkena dampak paling parah, menunjukkan penurunan lapangan kerja lebih dari 20%.

Sebaliknya, lapangan kerja membengkak di bidang informasi dan komunikasi, serta di bidang keuangan dan asuransi.

Ke depan, ILO meminta negara-negara untuk memberikan dukungan khusus kepada kelompok dan sektor yang terkena dampak paling parah, dan juga kepada sektor-sektor yang kemungkinan dapat menghasilkan banyak pekerjaan dengan cepat.

Ini menekankan perlunya lebih banyak dukungan untuk negara-negara miskin dengan sumber daya yang lebih sedikit untuk mempromosikan pemulihan lapangan kerja.

Laporan tersebut membuat sketsa tiga skenario pemulihan untuk 2021, tergantung pada tindakan dukungan yang diberikan di tingkat nasional dan internasional. Skenario pesimistis melihat tambahan penurunan 4,6% dalam jam kerja, dan bahkan skenario paling optimis mengantisipasi bahwa jam kerja akan menyusut 1,3% tahun ini, setara dengan 36 juta pekerjaan penuh waktu. (CNA/OL-6)

BERITA TERKAIT