19 January 2021, 21:00 WIB

Selandia Baru Prioritaskan Vaksin untuk Pekerja Berisiko


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

SELANDIA Baru berniat mengamankan sejumlah kecil vaksin covid-19 lebih awal untuk melindungi pekerja berisiko tinggi.

Kebijakan lockdown dan letak geografis sebelumnya mampu membantu Selandia Baru membasmi virus korona di wilayahnya.

Tetapi dengan pandemi yang berkecamuk secara global, lebih banyak orang yang kembali ke Selandia Baru dengan membawa infeksi, termasuk varian baru virus dari Inggris dan Afrika Selatan.

Hal ini meningkatkan kekhawatiran virus dapat kembali menyebar di masyarakat.

 

"Kami sedang menjajaki beberapa kemungkinan, apakah kami bisa mendapatkan sejumlah kecil vaksin lebih awal untuk memvaksinasi pekerja berisiko kami, pekerja perbatasan kami," kata Menteri Tanggap COVID-19 Chris Hipkins pada konferensi pers.

Pemerintah mengatakan telah mengamankan cukup vaksin untuk menyuntik 5 juta warga di negara itu, tetapi vaksin tersebut harus mendapat izin penggunaan oleh otoritas medis setempat.

Upaya vaksinasi telah dimulai di puluhan negara termasuk Amerika Serikat, India, dan Tiongkok, tetapi Selandia Baru mengatakan, sebagian besar penduduknya hanya akan divaksinasi pada paruh kedua tahun 2021.

Kritikus mengecam pemerintah, dengan mengatakan Selandia Baru tertinggal di belakang negara-negara lain.

"Pemerintah telah mengatakan para produsen berfokus pada pengiriman vaksinasi ke negara-negara di mana ribuan orang meninggal setiap hari, mendorong Selandia Baru semakin jauh dari antrian," kata pemimpin oposisi Partai Nasional Judith Collins dalam sebuah pernyataan.

"Tapi argumen itu tidak hilang ketika Singapura, yang terakhir mencatat kematian covid-19 pada November, sudah mulai memvaksinasi pekerjanya,” tambahnya.

Pemerintah mengumumkan pada Selasa (19/1) bahwa pengujian pra-keberangkatan diwajibkan bagi semua pelancong ke Selandia Baru kecuali dari Australia, Antartika, dan sebagian besar Kepulauan Pasifik.

Hipkins mengatakan meski Selandia Baru sudah memiliki kontrol perbatasan yang ketat, meningkatnya jumlah kasus di seluruh dunia membuat diperlukannya perlindungan lebih lanjut.

“Seperti yang kami beri isyarat minggu lalu, mengingat tingginya tingkat infeksi di banyak negara, sebagian besar rute udara global menjadi perhatian kritis di masa mendatang,” kata Hipkins.

“Selandia Baru saat ini dalam posisi yang baik tanpa kasus lokal, tetapi kami terus mengambil tindakan dengan langkah-langkah yang sangat spesifik untuk lebih memperkuat perbatasan kami sebagai tanggapan atas apa yang kami lihat di luar negeri,” tandasnya.

Ada 85 kasus aktif di Selandia Baru, yang semuanya merupakan pelancong yang kembali. Mereka kemudian dikarantina di perbatasan. Negara itu diketahui tidak mencatatkan kasus lokal selama dua bulan. (CNA/The Guardian/OL-8)

 

BERITA TERKAIT