16 January 2021, 13:52 WIB

Guatemala Tahan Ratusan Migran Honduras yang Ingin Masuk ke AS


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

TENTARA Guatemala menahan ratusan migran di perbatasan negara dengan Honduras. Mereka adalah sebagian dari ribuan orang, termasuk anak kecil, yang sedang dalam perjalanan menuju Amerika Serikat (AS) dengan menggunakan karavan.

Juru bicara militer Guatemala mengungkapkan, 600 migran ditahan di perbatasan pada Jumat dan dipindahkan ke otoritas imigrasi. Otoritas Guatemala juga mengembalikan 102 migran Honduras lainnya ke Honduras, setelah kelompok pertama dalam karavan berangkat dari San Pedro Sula.

Palang Merah memperkirakan bahwa hingga 4.000 orang kemungkinan ikut dengan karavan, karena Honduras dilanda kekerasan dan kehancuran ekonomi akibat Covid-19.

“Kami menderita kelaparan,” kata Óscar García saat berjalan menuju perbatasan Guatemala.

Pekerja perkebunan pisang itu mengatakan, rumahnya telah hancur pada badai November dan dia melarikan diri ke utara berharap mendapatkan cukup uang untuk menghidupi ibu dan putrinya yang masih kecil.

“Tidak mungkin tinggal di Honduras. Tidak ada pekerjaan, tidak ada apa-apa," tambahnya.

Karavan migran pertama tahun ini datang kurang dari seminggu sebelum Joe Biden menjabat sebagai Presiden di AS.

Sementara Presiden terpilih AS Joe Biden telah menjanjikan pendekatan yang lebih manusiawi untuk migrasi, berbeda dengan kebijakan anti-imigran Donald Trump.

Guatemala, Honduras, El Salvador dan Meksiko mengoordinasikan langkah-langkah keamanan dan kesehatan masyarakat mereka sendiri yang bertujuan untuk membatasi migrasi tidak teratur di seluruh wilayah.

Pada Kamis (14/1), Guatemala mengutip pandemi untuk mengumumkan kekuatan darurat di tujuh provinsi perbatasan yang sering digunakan para migran untuk transit dalam perjalanan ke Meksiko. Langkah tersebut membatasi demonstrasi publik dan mengizinkan pihak berwenang untuk membubarkan pertemuan publik, kelompok, atau demonstrasi dengan paksa.

Pada Jumat, Meksiko juga mengerahkan tentara dan polisi anti huru hara ke perbatasannya dengan Guatemala. Amerika Tengah sedang terhuyung-huyung dari krisis kelaparan yang semakin meningkat akibat badai dan perubahan iklim yang menghancurkan, serta korupsi, kekerasan, dan virus korona. (Aiw/The Guardian/OL-09)

BERITA TERKAIT