12 January 2021, 14:20 WIB

Kasus Covid-19 Naik, Keadaan Darurat Jepang Diperluas


mediaindonesia.com | Internasional

PERDANA Menteri (PM) Jepang Yoshihide Suga mengatakan pada pertemuan eksekutif partai yang berkuasa pada Selasa (12/1) bahwa dia akan mengumumkan keadaan darurat untuk tiga prefektur lainnya di barat Jepang, yaitu Osaka, Kyoto, dan Hyogo.

Perluasan penerapan keadaan darurat di luar Tokyo itu dilakukan untuk membendung penyebaran Covid-19 yang kasusnya meningkat di Jepang, demikian laporan kantor berita Kyodo.

Menanggapi tekanan dari Tokyo dan tiga prefektur tetangga di timur Jepang, Suga pekan lalu menyatakan keadaan darurat satu bulan untuk wilayah itu hingga 7 Februari 2021.

Namun, jumlah kasus infeksi virus corona juga meningkat di wilayah barat, sehingga mendorong penerapan keadaan darurat juga di tiga prefektur lainnya.

Menurut berita Kyodo yang mengutip sumber pemerintah, Jepang sedang menyelesaikan rencana untuk mengumumkan keadaan darurat di tiga prefektur di barat Jepang pada Rabu, dan juga akan mempertimbangkan untuk menambahkan beberapa prefektur lainnya di pusat, seperti Aichi - rumah bagi Toyota Motor Corp - dan Gifu.

Juru bicara pemerintah Jepang, Kepala Sekretaris Kabinet Katsunobu Kato, tidak mengonfirmasi laporan itu, namun hanya mengatakan bahwa pemerintah akan "dengan cepat" mempertimbangkan langkah-langkah untuk wilayah Osaka.

Di bawah hukum Jepang, perdana menteri dapat mengumumkan keadaan darurat, yang memberikan dasar hukum kepada otoritas lokal untuk meminta penduduk dan bisnis membatasi pergerakan dan kegiatan bekerja.

Suga telah dikritik karena banyak orang menilai dia melakukan langkah tanggapan yang lambat, membingungkan, dan sedikit demi sedikit terhadap pandemi ketika kasus infeksi virus corona di Jepang mendekati rekor tertinggi.

Kasus virus korona harian mencapai rekor 7.882 pada Jumat (8/1) lalu, sehingga totalnya menjadi hampir 300 ribu, menurut laporan NHK.

Dalam upaya membantu sektor jasa yang kesulitan, pemerintah Jepang sebelumnya telah mendorong warganya untuk bepergian di dalam negeri dan makan malam di luar dengan menawarkan subsidi yang banyak.

Namun, pemerintah akhirnya menghentikan program tersebut akhir tahun lalu ketika kasus Covid-19 melonjak.

Sekarang, pemerintah meminta penduduk di daerah Tokyo untuk tinggal di rumah sebanyak mungkin dan meminta bar serta restoran tutup pada pukul 08.00 malam.

Dalam survei Kyodo News yang diterbitkan pada Minggu (10/1), sekitar 79% responden mengatakan keputusan Suga untuk mengumumkan keadaan darurat Tokyo sudah terlambat. Selain itu, sekitar 80% responden mengatakan Olimpiade Tokyo tahun ini harus dibatalkan atau ditunda. (Ant/OL-09)

Baca juga : Berburu Darah Plasma Penyintas Covid-19

 

BERITA TERKAIT