09 January 2021, 10:55 WIB

Kim Jong-Un: AS itu Musuh dan Hambatan Utama Korea Utara


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

PEMIMPIN Korea Utara Kim Jong-un menyebut Amerika Serikat sebagai musuh terbesar bagi negara bersenjata nuklir tersebut. Pernyataan tersebut datang kurang dari dua minggu sebelum pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS dan setelah hubungan antara Kim dan Presiden Donald Trump bergejolak.

Dia menuturkan permusuhan antara Washington dan Korea Utara tidak akan berubah meski Presiden AS berganti.

"Kegiatan politik luar negeri kita harus difokuskan dan diarahkan untuk menundukkan AS, musuh terbesar dan hambatan utama bagi perkembangan inovatif kita," kata Kim, menurut laporan KCNA dalam sambutannya.

"Tidak peduli siapa yang berkuasa di AS, sifat AS yang sebenarnya dan kebijakan fundamentalnya terhadap Korea Utara tidak pernah berubah," imbuhnya.

Belum ada komentar langsung dari Departemen Luar Negeri AS terkait pernyataan tersebut. Seorang juru bicara kampanye Biden pun menolak berkomentar.

Di samping itu, Kim juga menyerukan lebih banyak penelitian dan pengembangan peralatan militer canggih, serta kemajuan lebih lanjut dalam memperluas persenjataan nuklir negara itu.

Baca juga: Korut Pamerkan Rudal Balistik Interkontinental Baru

Pyongyang telah mencurahkan sumber daya dalam jumlah besar untuk mengembangkan senjata nuklir dan rudal balistiknya, yang menurutnya perlu dipertahankan dari kemungkinan invasi AS.

Program-program tersebut membuat kemajuan pesat di bawah pemerintahan Kim, termasuk ledakan nuklirnya menjadi yang paling kuat hingga saat ini dan misil yang mampu menjangkau seluruh AS.

Kim menuturkan Korea Utara telah menyelesaikan rencana untuk kapal selam bertenaga nuklir.

"Penelitian perencanaan baru untuk kapal selam bertenaga nuklir telah selesai dan akan memasuki proses pemeriksaan akhir," ungkap Kim.

“Negara harus lebih memajukan teknologi nuklir dan mengembangkan hulu ledak nuklir ringan berukuran kecil untuk diterapkan secara berbeda tergantung pada subjek sasaran,” tukasnya.

Dia mengatakan Korea Utara juga harus meningkatkan kemampuan serangan presisi pada target dalam jarak serangan 15.000 km (9.320 mil) dan mengembangkan teknologi untuk memproduksi hulu ledak nuklir yang lebih kecil dan ringan untuk dipasang pada jarak jauh.

“Tidak ada yang lebih bodoh dan berbahaya daripada tidak memperkuat kekuatan kita tanpa henti dan bersikap santai pada saat kita dengan jelas melihat senjata canggih musuh dikembangkan lebih dari sebelumnya,” tuturnya.

“Kenyataannya adalah kita dapat mencapai perdamaian dan kemakmuran di Semenanjung Korea ketika kita terus membangun pertahanan nasional kita dan menekan ancaman militer AS,” pungkasnya.(The Guardian/CNA/OL-5)

BERITA TERKAIT