09 January 2021, 02:35 WIB

Hari Pertama Tokyo dalam Status Darurat Covid-19


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

IBU Kota Jepang, Tokyo, memulai hari pertamanya di bawah status darurat covid-19 pada Jumat (8/1). Sebagian besar warga menjalani kehidupan seperti biasa, termasuk kereta komuter pagi mengantar kerumunan orang yang mengenakan masker di stasiun yang ramai.

Perdana Menteri Yoshihide Suga mengulangi permintaannya agar restoran mempersingkat jam kerja dan agar warga bekerja dari rumah. "Kami menanggapi ini dengan sangat serius. Dengan segala cara, saya ingin mengatasi situasi sulit ini dengan kerja sama masyarakat," kata Suga kepada wartawan.

Status darurat berlangsung hingga 7 Februari 2021 yang meminta restoran dan bar tutup pada pukul 20.00. Minuman tidak akan disajikan setelah pukul 19.00. Aturan ini berlaku untuk Tokyo dan tiga prefektur di sekitarnya yaitu Saitama, Chiba, dan Kanagawa.

Secara nasional, kasus covid-19 yang dikonfirmasi telah mencapai 260 ribu dengan lebih dari 7.500 kasus baru dilaporkan pada Jumat (8/1). "Infeksi tersebut merupakan tertinggi yang pernah ada di setiap wilayah bangsa," ujarnyaSuga.

Suga telah menjanjikan revisi hukum, termasuk mengizinkan hukuman dan tindakan lain untuk menambah kekuatan pada aturan tersebut. Revisi akan dipelajari di parlemen akhir bulan ini.

Beberapa perusahaan di Jepang telah menolak untuk bekerja dari jarak jauh dan keadaan darurat dapat membantu pekerja menyatakan keinginan mereka untuk tinggal di rumah.

Tetapi sebagian besar kegiatan akan tetap sama. Sekolah, acara olahraga, toko, dan bioskop tetap dibuka, tetapi dengan menerapkan jarak sosial dan mengenakan masker. Kerumunan diperkirakan akan menipis di malam hari.

Keadaan darurat sebelumnya, yang diumumkan pada April dan Mei lalu, meskipun cakupan dan wilayahnya lebih luas, berdampak pada pembatasan penyebaran covid-19.

Jumlah kasus harian di Tokyo telah meningkat, mencapai rekor harian 2.447 pada Kamis. "Tujuannya menurunkan mereka menjadi 500," menurut pejabat.

Seperti banyak penduduk Tokyo lain, Kazue Kuramitsu sudah pesimistis tentang lama waktu yang dibutuhkan untuk kembali hidup normal. "Mulai hari ini, kita pada dasarnya bertempur selama satu bulan. Tapi menurut saya penyebarannya tidak akan berhenti," katanya. (CNA/OL-14)

BERITA TERKAIT