24 October 2020, 21:00 WIB

Dekat dengan Indonesia, Mufti Damaskus Suriah yang Tewas Dibom


Wisnu AS | Internasional

MUFTI Agung Damaskus, Syekh Muhammad Adnan Al-Afyouni, tewas setelah mobil yang dikendarainya meledak akibat bom teroris yang dipasang pada kendaraannya itu, Kamis (22/10). Beliau termasuk ulama yang dekat dengan Indonesia.

Mengutip dari NU Online, Syekh Adnan al-Afyouni pernah mengunjungi Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, pertengahan Januari lalu. Beliau bertemu dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Salah satu kutipan pembicaraan keduanya yaitu Said melihat Suriah merupakan negara yang kuat. Pasalnya, negeri yang dipimpin Bashar Asad itu digempur oleh berbagai kekuatan militer, tetapi masih kokoh berdiri.

Adnan menimpali pernyataan itu bahwa kekuatan negara yang tidak punya utang itu menjadi berkah dari doa Nabi Muhammad SAW, "Ya Allah, berkahilah Yaman kami dan Syam (Suriah) kami."

Ikatan Alumni Syam (Suriah) Indonesia (Alsyami) mengungkapkan sosok Syekh M Adnan Al-Afyouni sebagai seseorang yang getol melakukan rekonsiliasi konflik di Suriah yang berkepanjangan dan berdampak krisis kemanusiaan, selain korban jiwa tak terhitung jumlahnya. "Beliaulah ulama yang turun langsung meng-ishlah-kan pihak-pihak yang bertikai," kata Sekjen Alsyami M Najih Arromadloni, Jumat (23/10), sebagaimana dikutip dari NU Online.

Adnan juga merupakan ulama yang mendapatkan kepercayaan pemerintah dan oposisi, karena integritasnya yang tinggi. “Syekh Adnan juga termasuk ulama yang sangat dekat dengan ulama dan umat Islam Indonesia, punya ratusan murid di Indonesia, melakukan serangkaian puluhan kunjungan ke Indonesia semasa kariernya menjadi mufti Provinsi Damaskus,” jelas Najih.

Ia juga merupakan ulama yang memimpin rapat pemilihan Habib Luthfi bin Yahya sebagai Ketua Forum Sufi Dunia yang berlangsung di Pekalongan, Jawa Tengah, pada April 2019. Di tempat yang sama, ia bersama tokoh-tokoh sufi dunia juga menghadiri Konferensi Ulama Internasional bertajuk Bela Negara pada 27-29 Juli 2016.

Dalam prakatanya, Syekh Afyuni menyampaikan bahwa konferensi itu membahas pentingnya bela negara, melindungi negara, dan mengembangkan negara, serta menjaga stabilitas dan pertumbuhannya. “Juga penting hidup rukun di seluruh negara-negara peserta serta pentingnya menyebarluaskan rasa cinta perdamaian, kerja sama, saling bahu-membahu atas dasar fikih dan legalitas agama kita yang berlandaskan kepada teks-teks agama Islam yang hanif dan ajaran-ajarannya dari para ulama salafus sholeh,” ujarnya kala itu. (OL-14)

BERITA TERKAIT