22 October 2020, 10:55 WIB

Roti Gratis untuk Penduduk Stepanakert di Tengah Konflik Karabakh


Nur Aivanni |

HANGGAR berwarna abu-abu dan usang dengan jendela berlapis kardus menampung toko roti yang diperuntukkan bagi penduduk dan tentara yang terjebak dalam pertempuran di ibu kota Nagorno-Karabakh, Stepanakert.

Rabu (21/10), sekitar pukul 10.00 pagi disertai gerimis di ibu kota daerah separatis Armenia, toko roti baru saja dibuka. Saat itu juga sebuah mobil berhenti menurunkan orang-orang yang berlari melintasi alun-alun kecil, beberapa mengantongi dua atau tiga roti, yang lain mengambil kotak berisi puluhan roti.

Dalam sekejap, mereka pun pergi meninggalkan karyawan toko roti yang sibuk memastikan roti-roti yang baru siap untuk pelanggan berikutnya. Mereka menguleni, menyiapkan puluhan lembaran adonan yang diambil dan ditempatkan di dua oven listrik besar.

Dibalut celemek merah di atas rompi biru dan topi tukang roti bertengger di kepala, Lena Ghevondyan, 55, mengaku telah bekerja 12 jam sehari di toko roti.

"Saya tidak peduli meski lelah. Saya merasa lebih baik di sini. Saya bisa saja pergi, tapi saya memilih untuk tetap di sini," jelasnya sambil meletakkan adonan di cetakannya.

Baca juga: Soal Nagorno-Karabakh, PM Armenia: Tidak ada Jalan Tengah

Putranya, yang baru berusia 20 tahun, telah berada di garis depan sejak 26 September, sehari sebelum pertempuran dimulai.

"Jika anak saya ada di sana, bagaimana saya bisa pergi dari sini? Saya tidak meminta apa-apa lagi, rumah saya bisa dihancurkan tetapi saya ingin anak saya berada di dekat saya," kata Ghevondyan.

Toko roti tersebut hanya menjual satu item yaitu roti dengan satu variasi, roti putih dengan berat sekitar 700 gram. Itu pun gratis.

"Sejak hari pertama perang kami memutuskan untuk memberikannya kepada penduduk secara gratis dan bekerja untuk tentara juga," kata pemilik toko roti Armen Saghyan, 31, yang mengenakan seragam tentara.

Beberapa toko roti di Stepanakert masih membuat roti untuk beberapa orang yang belum meninggalkan kota berpenduduk 60.000 jiwa sebelum perang meletus.

Armen Abroyan, 41, bekerja sebagai sopir dan pengantar untuk toko roti.

"Kami mengirimkan setiap hari kapan pun orang meminta kami, setidaknya enam hingga delapan kali sehari," ujar Abroyan.(AFP/OL-5)

BERITA TERKAIT