31 August 2020, 13:22 WIB

Tiongkok Ancam Pejabat Rep Ceko yang Berkunjung ke Taiwan


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

DIPLOMAT terkemuka Tiongkok, Wang Yi, mengatakan Ketua Senat Rep Ceko Milos Vystrcil akan 'membayar mahal' karena melanggar apa yang disebut prinsip 'Satu Tiongkok' dengan melakukan kunjungan resmi ke Taiwan.

Kecaman itu disampaikan Kementerian Luar Negeri Tiongkok dalam sebuah pernyataan, Senin (31/8).

Vystrcil tiba di Taipei, Minggu (30/8), bersama delegasi 90 orang termasuk Wali Kota Praha dalam perjalanan yang dirancang untuk mempromosikan hubungan bisnis dengan Taiwan, yang diklaim Tiongkok sebagai teritorialnya dan mencoba diisolasi di panggung dunia.

Baca juga: Mustapha Adib Bakal Ditunjuk Sebagai PM Libanon

Dia mengatakan Rep Ceko tidak akan tunduk pada kritikan dan keberatan dari Beijing.

Wang mengatakan kunjungan itu adalah 'provokasi' dan Taiwan adalah bagian tidak terpisahkan dari Tiongkok.

Ini adalah kunjungan penting kedua oleh delegasi asing ke pulau itu dalam dua minggu, setelah kunjungan Menteri Kesehatan Amerika Serikat (AS) Alex Azar.

Vystrcil diperkirakan akan menyampaikan pidato di parlemen Taiwan dan bertemu dengan Presiden Tsai Ing-wen selama perjalanan lima hari, yang berlanjut hingga 4 September.

Dalam sebuah unggahan di Twitter, Tsai mencatat Taiwan dan Rep Ceko berbagi 'banyak nilai inti'. Menteri Luar Negeri Joseph Wu, yang bertemu dengan delegasi di bandara, berterima kasih kepada Rep Ceko.

"Karena telah mendahulukan persahabatan sebelum politik," ujar Wu, sembari menggunakan atau menautkan tagar #defenddemocracy.

Beijing telah berupaya mengisolasi Taiwan secara diplomatis, meningkatkan tekanan sejak Tsai berkuasa pada 2016.

Sejumlah negara yang memiliki hubungan formal dengan Taiwan telah mengalihkan kesetiaan mereka ke Tiongkok dan pulau itu sekarang memiliki hubungan resmi dengan hanya 15 negara.

Tsai memenangi masa jabatan kedua di Januari dengan kemenangan telak.

Tsai telah menggambarkan pulau itu sebagai sekutu demokratis progresif bagi negara-negara lain yang berharap untuk melawan otoritarianisme Beijing.

Dalam pidatonya di sebuah lembaga pemikir Australia, Kamis (27/8) lalu, Tsai menggambarkan Taiwan sebagai di garis depan kebebasan dan demokrasi ketika Beijing menindak perbedaan pendapat di Hong Kong dan tempat lain. (Al Jazeera/OL-1)

BERITA TERKAIT