22 June 2019, 20:55 WIB

Trump Perintahkan Penangkapan 2.000 Keluarga Imigran Ilegal


Denny Parsaulian Sinaga | Internasional

PRESIDEN AS Donald Trump telah memerintahkan agen perbatasan untuk memulai penangkapan massal terhadap sekitar 2.000 keluarga migran pada Minggu (23/6). Keluarga migran itu telah menerima pesan deportasi. Demikian lapor media AS pada Jumat (21/6).

Berita itu diumumkan presiden di Twitter pada Senin (17/6). Trump mencuit bahwa para pejabat Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) akan mulai mendeportasi jutaan orang asing ilegal. Meskipun saat itu ia hanya memberikan sedikit detail.

Tweet itu mempercepat operasi yang sudah berlangsung. Ini menurut sumber yang tidak disebutkan namanya yang dikutip oleh Washington Post, NBC, dan CNN.

Penangkapan keluarga imigran itu kemungkinan akan dimulai saat fajar di 10 kota termasuk Houston, Chicago, New York, dan Miami.

Kevin McAleenan, penjabat sementara Homeland Security, ragu-ragu tentang bagaimana operasi dilakukan.

Dia telah mendesak ICE terutama berfokus pada sekitar 150 keluarga yang memiliki pengacara tetapi telah setop proses hukum dan menghilang.


Baca juga: AS-Eropa Tekan Rusia soal Kasus Pesawat MH17


AS menghadapi lonjakan migran dari beberapa negara Amerika Tengah yang dilanda kekerasan geng dan kemiskinan.

Angka-angka itu telah menghambat kemampuan otoritas AS untuk memproses kedatangan mereka.

Trump menyebutnya sebagai invasi dan telah menjadikan perang melawan migrasi ilegal sebagai platform utama pemerintahannya.

Diperkirakan 10,5 juta imigran gelap tinggal di Amerika Serikat saat ini. Data ini menurut Pusat Penelitian Pew.

Jumlah migran telah meningkat menjadi 144.000, termasuk di dalamnya 57.000 anak di bawah umur, menurut data Mei. Ini jumlah tertinggi dalam 13 tahun terakhir.

Kongres telah mengizinkan ICE untuk menahan 40.000 migran dan banyak lainnya dikirim ke fasilitas lain yang penuh sesak di seluruh negara.

Pada 2017 pemerintahan Trump memberlakukan rezim nol toleransi di perbatasan AS dengan Meksiko, yang mengakibatkan ratusan keluarga berpisah. (OL-1)

BERITA TERKAIT