07 April 2019, 08:20 WIB

WNI Tewas dalam Pembebasan di Filipina


Tesa Oktiana Surbakti | Internasional

SEORANG warga negara Indonesia (WNI), yang disandera kelompok bersenjata, ditemukan tewas di wilayah perairan Pulau Simisa, Provinsi Sulu, Filipina Selatan. Pria bernama Hariadin meninggal akibat tenggelam setelah berhasil bebas dari penyanderaan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, mengatakan jasad Hariadin ditemukan, Jumat (5/4) sekitar pukul 18.00 waktu setempat. Hariadin bersama WNI sandera lainnya, Heri Ardiansyah, berupaya berenang ke Pulau Bangalao demi menghindari serangan angkatan bersenjata Filipina terhadap aksi penyanderaan.

Berbeda dengan rekannya, Heri Ardiansyah dapat diselamatkan, begitu pula dengan seorang warga negara Malaysia.

"Pemerintah Indonesia menyampaikan dukacita mendalam kepada keluarga almarhum Hariadin. Kementerian Luar Negeri sudah berkomunikasi dengan keluarga kedua WNI di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, dan di Sandakan, Malaysia, untuk mengabarkan peristiwa tersebut," jelas Arrmanatha melalui keterangan resmi, Sabtu (6/4).

Heri Ardiansyah dan jenazah Hariadin akan tiba di pangkalan militer Westmincom, Zamboanga City, pada hari ini.

Nantinya terdapat proses serah terima kepada wakil pemerintah Indonesia untuk kemudian dilanjutkan proses pemulangan ke Tanah Air.

Juru Bicara militer Westmincom Filipina Kolonel Gary Besana mengatakan pasukannya sedang melakukan operasi pengejaran untuk menetralisasi sisa kelompok bersenjata Abu Sayaf (ASG) yang masih terperangkap di Pulau Simisa.

Sejak akhir Februari 2019, Divisi 11 Angkatan Bersenjata Filipina yang didukung oleh Tim BAIS TNI malakukan operasi pembebasan sandera. Mereka terus meningkatkan tekanan kepada para penyandera. Dalam perkembangan terakhir, para penyandera terdesak di Pulau Simisa, Provinsi Sulu, Filipina Selatan.

Heri Ardiansyah dan Hariadin diculik bersama seorang WN Malaysia, Jari Abdullah, di perairan Kinabatangan, Sandakan, Malaysia, 5 Desember 2018. Ketiganya diculik oleh kelompok bersenjata di Flipina Selatan saat sedang bekerja di kapal penangkap ikan SN259/4/AF berbendera Malaysia.

Pada 22 Februari, Presiden Filipina Rodrigo Duterte bertemu Nur Misuari, pimpinan Moro National Liberation Front (MNLF). Duterte mendesak MNLF membantu pembebasan WNI.

Terhitung 2016, sebanyak 36 WNI disandera kelompok bersenjata asal Filipina Selatan. Seluruhnya berhasil dibebaskan. Akan tetapi, 1 orang sandera WNI meninggal dalam proses pembebasan tersebut. (Tes/i-1)

BERITA TERKAIT