Pemberdayaan Ekonomi Bagi Kelompok Rentan Akibat Pandemi di Lembata


Alexander P. Taum - 22 September 2021, 12:05 WIB

LESUNYA perekonomian dunia akibat pandemi covid-19, tidak melumpuhkan kreativitas kelompok rentan untuk berjuang mempertahankan hidup.

Bergantung hidup pada hasil bertani dan menenun, kelompok rentan ini bertekad untuk terus mengais rejeki di tengah kesulitan ekonomi akibat wabah covid-19.

Magdalena Ingi Nuban, 56 tahun, warga Desa Dua Wutun, Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, adalah petani. Ia tergolong kelompok rentan yang selalu didampingi oleh LSM CIS Timor.

Kelompok rentan, menurut undang-undang adalah orang lanjut usia, anak-anak, fakir miskin, perempuan hamil, dan orang dengan disabilitas.

Kepada Media Indonesia, Magdalena mengatakan, Pemdes Desa Dua Wutun menggelontorkan anggaran senilai Rp11 juta untuk kelompok tenun ikat SAKURA. Kelompok beranggotakan 6 orang itu menarget produksi tenun ikat berupa selendang empat potong, kain sarung tenunan sebanyak dua lembar dalam setahun.

Setiap anggota diwajibkan menenun dua jenis sarung, dengan harga Rp500 ribu dan Rp1 juta. Lalu, mereka wajib mengembalikan Rp250 ribu ke khas Desa dari hasil penjualan tiap helai kain tenun. Sisanya untuk keperluan para penenun sendiri.

Ia mengaku proses pembuatan sarung tenun memakan waktu lebih dari dua bulan. "Memang untungnya besar, tetapi karena prosesnya terlalu lama, jadi saya bagi waktu juga untuk berkebun dan berjualan beras merah dan beras hitam," ujar Magdalena.

Selain itu, bisnis serabutan juga dijalaninya. Dia mengaku berjualan ubi jalar, ubi kayu, terung, daun ubi di Pasar Lewoleba, karena uang lebih cepat didapat. Jenis komoditas itu ditanami dengan sistim tumpang sari.

Seluruh aktivitas usahanya dicatat dalam buku, membantunya menghitung pengeluaran dan pemasukan. Bekal pengetahuan pembukuan dilatih oleh CIS Timor.

Magdalena, tergabung pula dalam sebuh kelompok Tani Desa Duawutun. Ia berharap bantuan dari Dinas Pertanian dapat membantunya memperluas lahan padi Gogo miliknya. Perluasan lahan bertani itu diharapkan mampu menambah penghasilan.

Sementara itu, Eky Habel, koordinator CIS Timor wilayah Lembata menjelaskan, pihaknya mengintervensi program pemberdayaan ekonomi inklusi bagi petani, perempuan dan disabilitas. Pihaknya melibatkan Pemerintah dalam advokasi mewujudkan ekonomi inklusi.

Tak hanya itu, advokasi kebijakan penganggaran peduli kelompok rentan kepada Pemerintah Desa, telah menghasilkan keberpihakan anggaran Dana Desa kepada kelompok tenun ikat.

Pemerintah desa dampingan Cis Timor telah mengalokasikan anggaran guna memberdayakan ibu ibu penenun di desanya.

CIS Timor pun menggandeng Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lembata mendampingi tiga kelompok tani yang tersebar di desa Dua Wutun, Desa Pada dan Kelurahan Selandoro.

Para petanipun diajari CIS Timor tentang pembukuan guna mencatat pengeluaran dan pemasukan dalam usaha mereka.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Kabupaten Lembata, Jack A. Wuwur, Selasa (21/9), mengatakan, pihaknya menaruh perhatian kepada kelompok tani dampingan CIS Timor. Ia menjamin kelompok tersebut diakomodir dalam sistim (simulu), Kementerian Pertanian RI.

"Semua program pemberdayaan yang akan diintervensi program baik dari Dana Desa, APBD II, APBD I, APBN untuk kelompok tani," ujar Jack A. Wuwur.

Karena itu, model pemberdayaan ekonomi inklusif berkelanjutan penting untuk dijalankan pemerintah maupun pihak swasta.

Untuk diketahui, CIS Timor merupakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak dalam isu ekonomi inklusi, mengembangkan model pemberdayaan ekonomi inklusi berkelanjutan bagi kelompok rentan di Kabupaten Lembata. (OL-13)

Baca Juga: Awal Musim Hujan, Tujuh Desa di Klaten Alami Kekeringan

BERITA TERKAIT